Misi Strategis Jokowi Damaikan Rusia-Ukraina
Rabu, 29 Juni 2022 - 13:30 WIB
Praktis, G7 dan G20 ini berkelindan. Sejak awal, Indonesia pun tak ingin menyia-nyiakan forum penting ini. Selain datang langsung ke Jerman untuk bersama-sama dengan negara G7 mencari solusi atas isu terkini seperti krisis pangan dan energi global, Jokowi juga mengemban misi besar nan mulia, yakni mendorong perdamaian segera antara Ukraina dan Rusia.
Misi Indonesia ini tentu bukan mudah. Selain tentu banyak kendala kepentingan yang melingkupinya, namun bukan berarti perdamaian menjadi hal yang mustahil. Hidup damai sejatinya adalah menjadi naluri dan kehendak bersama manusia di muka bumi. Diniati keinginan kolektif itulah, maka antarindividu di manapun mereka hidup kemudian bersepakat saling membantu dan membangun representasi sosial dalam berbagai bidang kehidupan.
Berbasis kesadaran ini, maka upaya membangun perdamaian Ukraina-Rusia juga tidak menghadapi pintu mati. Kita semua tahu, hari-hari ini Ukraina juga tengah berupaya masuk dalam negara Uni Eropa. Sedang Uni Eropa sendiri selama ini juga tergabung dalam G20 yang di dalamnya juga terdapat Rusia. Jika benar masuk Uni Eropa, tentu kehadiran Ukraina ini ke depan akan lebih mewarnai isu-isu global yang sensitif termasuk ketika bersinggungan dengan Rusia. Dan, karena masuk dalam representasi yang sama, tentu ketegangan akan lebih mudah didialogkan ketimbang mengedepankan jalur peperangan.
Dengan pemahaman-pemahanan inilah, kita melihat langkah Presiden Jokowi merajut perdamaian dalam konflik Ukraina-Rusia itu bukanlah langkah gegabah. Indonesia adalah negara yang menahbiskan diri sebagai negara yang mencintai kemerdekaan. Dengan kemerdekaan maka hak-hak asasi yang hakikatnya menjadi fitrah manusia terlindungi. Ini sebagaimana diamanahkan dalam bunyi aliena empat Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa posisi Indonesia adalah negara merdeka dan berdaulat penuh. Hanya dengan kemerdekaan, maka cita-cita ketertiban, perdamaian dunia dan keadilan sosial bakal terwujud.
Ikhtiar mecapai ketertiban dunia tentu membutuhkan jalur-jalur diplomasi secara aktif, bukan mengedepankan kekerasan apalagi peperangan. Jalan yang dititi Jokowi tentu bukanlah final dan harga mati. Namun lewat strategi politik luar negeri bebas aktif, Jokowi telah membangun pondasi akan pentingnya masyarakat global segera menghentikan pertikaian, apapun latar belakang, bentuk dan motifnya.
Misi Indonesia ini tentu bukan mudah. Selain tentu banyak kendala kepentingan yang melingkupinya, namun bukan berarti perdamaian menjadi hal yang mustahil. Hidup damai sejatinya adalah menjadi naluri dan kehendak bersama manusia di muka bumi. Diniati keinginan kolektif itulah, maka antarindividu di manapun mereka hidup kemudian bersepakat saling membantu dan membangun representasi sosial dalam berbagai bidang kehidupan.
Berbasis kesadaran ini, maka upaya membangun perdamaian Ukraina-Rusia juga tidak menghadapi pintu mati. Kita semua tahu, hari-hari ini Ukraina juga tengah berupaya masuk dalam negara Uni Eropa. Sedang Uni Eropa sendiri selama ini juga tergabung dalam G20 yang di dalamnya juga terdapat Rusia. Jika benar masuk Uni Eropa, tentu kehadiran Ukraina ini ke depan akan lebih mewarnai isu-isu global yang sensitif termasuk ketika bersinggungan dengan Rusia. Dan, karena masuk dalam representasi yang sama, tentu ketegangan akan lebih mudah didialogkan ketimbang mengedepankan jalur peperangan.
Dengan pemahaman-pemahanan inilah, kita melihat langkah Presiden Jokowi merajut perdamaian dalam konflik Ukraina-Rusia itu bukanlah langkah gegabah. Indonesia adalah negara yang menahbiskan diri sebagai negara yang mencintai kemerdekaan. Dengan kemerdekaan maka hak-hak asasi yang hakikatnya menjadi fitrah manusia terlindungi. Ini sebagaimana diamanahkan dalam bunyi aliena empat Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa posisi Indonesia adalah negara merdeka dan berdaulat penuh. Hanya dengan kemerdekaan, maka cita-cita ketertiban, perdamaian dunia dan keadilan sosial bakal terwujud.
Ikhtiar mecapai ketertiban dunia tentu membutuhkan jalur-jalur diplomasi secara aktif, bukan mengedepankan kekerasan apalagi peperangan. Jalan yang dititi Jokowi tentu bukanlah final dan harga mati. Namun lewat strategi politik luar negeri bebas aktif, Jokowi telah membangun pondasi akan pentingnya masyarakat global segera menghentikan pertikaian, apapun latar belakang, bentuk dan motifnya.
Lihat Juga :