Membaca Ulang Keberhasilan Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
Sabtu, 30 April 2022 - 12:00 WIB
Pasalnya, mantan Kabareskrim itu tak tanggung dalam melakukan pelbagai terobosan dan upaya reformasi Polri dengan melakukan pembenahan dimulai dari internal Polri seperti menghapus budaya buruk perilaku oknum polisi semisal budaya suap dan perilaku buruk lainnya. Alhasil, institusi Polri tidak lagi dipandang sebagai institusi "buruk rupa" meski stigma negatif itu sebenarnya disebabkan perilaku buruk oknum. Sebaliknya Polri menjelma menjadi institusi terbuka terutama dalam hal melayani kepentingan publik.
Tak hanya itu, bila ditelisik secara komprehensif sebenarnya banyak sekali prestasi dan keberhasilan kinerja Kapolri yang terbilang menonjol selain prestasi penangkapan pelaku teror dan pemberantasan kejahatan narkoba. Satu hal misalnya, Polri saat ini menjadi institusi yang paling terbuka dengan kritik. Dalam perspektif penulis, kritik di era kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dipandang sebagai masukan dan ekspresi kebebasan dalam demokrasi yang dijamin konstitusi.
Buktinya, Sigit menggelar lomba orasi yang melibatkan kelompok aktivis mahasiswa. Selain itu, digelar festival lomba mural yang melibatkan masyarakat. Artinya, bagi Listyo Sigit Prabowo siapa pun boleh mengkritik mengekspresikan kegelisannya atau pun mengungkapkan pendapatnya. Karena itu, ketika kritik bertubi-tubi bahkan hinaan "membanjiri" institusi Polri, justru Listyo Sigit tak merespons dan tak meladani.
Sebaliknya, mantan Kapolda Banten itu memilih fokus bekerja membenahi dan melakukan upaya perbaikan serta penyempurnaan institusi Polri. Alhasil, Listyo Sigit Prabowo berhasil melakukan setapak perubahan. Satu tahun kepemimpinannya telah menghadirkan transformasi perubahan fundamental yang sulit dijangkau nalar. Jika dirinci capaian keberhasilan program Polri Presisi secara umum sudah di atas 90%.
Karena itu, hemat penulis tidak berlebihan bila banyak pihak yang merasa optimis terkait masa depan institusi Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Fakta di lapangan menunjukkan wajah Polri saat ini tampil humanis, terbuka, akuntabel, dan mudah sekali diawasi oleh masyarakat. Memang di sisi lain, juga terdapat sejumlah persoalan yang sempat disorot publik. Misalnya terkait penanganan kasus yang melibatkan orang-orang yang notabeni bagian dari rezim penguasa. Ada kesan tebang pilih dalam penanganan kasus itu.
Menurut penulis ini semestinya jangan sampai berulang agar tidak merusak reputasi dan marwah institusi. Belum lagi secara personal akan berimplikasi buruk terhadap reputasi kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo sebagai nahkoda Korps Bhayangkara. Karena itu, harapan publik terhadap penanganan setiap kasus dilakukan secara transparan supaya tidak terkesan tebang pilih.
Tantangan Merawat Keperayaan Publik
Tak hanya itu, bila ditelisik secara komprehensif sebenarnya banyak sekali prestasi dan keberhasilan kinerja Kapolri yang terbilang menonjol selain prestasi penangkapan pelaku teror dan pemberantasan kejahatan narkoba. Satu hal misalnya, Polri saat ini menjadi institusi yang paling terbuka dengan kritik. Dalam perspektif penulis, kritik di era kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dipandang sebagai masukan dan ekspresi kebebasan dalam demokrasi yang dijamin konstitusi.
Buktinya, Sigit menggelar lomba orasi yang melibatkan kelompok aktivis mahasiswa. Selain itu, digelar festival lomba mural yang melibatkan masyarakat. Artinya, bagi Listyo Sigit Prabowo siapa pun boleh mengkritik mengekspresikan kegelisannya atau pun mengungkapkan pendapatnya. Karena itu, ketika kritik bertubi-tubi bahkan hinaan "membanjiri" institusi Polri, justru Listyo Sigit tak merespons dan tak meladani.
Sebaliknya, mantan Kapolda Banten itu memilih fokus bekerja membenahi dan melakukan upaya perbaikan serta penyempurnaan institusi Polri. Alhasil, Listyo Sigit Prabowo berhasil melakukan setapak perubahan. Satu tahun kepemimpinannya telah menghadirkan transformasi perubahan fundamental yang sulit dijangkau nalar. Jika dirinci capaian keberhasilan program Polri Presisi secara umum sudah di atas 90%.
Karena itu, hemat penulis tidak berlebihan bila banyak pihak yang merasa optimis terkait masa depan institusi Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Fakta di lapangan menunjukkan wajah Polri saat ini tampil humanis, terbuka, akuntabel, dan mudah sekali diawasi oleh masyarakat. Memang di sisi lain, juga terdapat sejumlah persoalan yang sempat disorot publik. Misalnya terkait penanganan kasus yang melibatkan orang-orang yang notabeni bagian dari rezim penguasa. Ada kesan tebang pilih dalam penanganan kasus itu.
Menurut penulis ini semestinya jangan sampai berulang agar tidak merusak reputasi dan marwah institusi. Belum lagi secara personal akan berimplikasi buruk terhadap reputasi kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo sebagai nahkoda Korps Bhayangkara. Karena itu, harapan publik terhadap penanganan setiap kasus dilakukan secara transparan supaya tidak terkesan tebang pilih.
Tantangan Merawat Keperayaan Publik
Lihat Juga :