Hasil Survei, Masyarakat Ingin Ada Perombakan Kabinet Jokowi-Maruf

Jum'at, 19 Juni 2020 - 21:24 WIB
"Kepemimpinan Zulkifli Hasan telah terbebas dari bayang-bayang hegemoni besannya, Amien Rais, yang terkesan anti-pemerintah. Jika PAN terlalu lama 'berpuasa' dari kekuasaan, partai berpotensi terlempar dari parlemen nantinya akibat keterbatasan logistik dan perpecahan akibat konflik internal," jelas Umam.

Yang tidak kalah penting, Jokowi juga perlu mempertimbangkan perwakilan Nahdlatul Ulama di dalam pemerintahan. Sebab, setelah diumumkannya Kabinet Oktober 2019 lalu, hubungan Jokowi dengan NU nampak renggang. "Banyak kelompok di internal NU yang kecewa karena tidak terkomodasi dalam kekuasaan," ucapnya.

Bahkan, keberadaan Maruf Amin sebagai Wapres, tambah Umam, juga tidak begitu diberdayakan secara optimal oleh pemerintah. Karena itu, sikap kritis NU belakangan ini harus benar-benar diantisipasi oleh Presiden Jokowi.

"Jika kekecewaan di internal NU tidak terwadahi, pemerintahan Jokowi bisa kehilangan dukungan dan berhadapan dengan sejumlah faksi di internal NU yang selama ini sangat solid mendukungnya," kata Umam.

Banyak nama kader NU yang layak untuk masuk dalam bursa reshuffle kabinet. Mulai dari Ali Masykur Musa, Yenny Wahid, hingga Witjaksono belakangan ini berkiprah di bidang pembangunan ekonomi, pertanian dan perikanan. "Nama-nama kader muda Nahdliyyin itu juga bisa jadi opsi yang cukup untuk dipertimbangkan," pungkas Umam.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!