Tsunami Inflasi

Jum'at, 15 April 2022 - 13:09 WIB
Yang dianggap masih ‘beruntung’ di awal 2022 adalah China dan Jepang. Inflasi China Februari 2022 hanya 0,9%, relatif normal dibanding 2019 yang mencapai 2,9%, 2020 mencapai 2,5% dan di 2021 yang juga hanya 0,9%.

Inflasi Jepang juga relatif rendah sebesar 0,9%, meskipun dibandingkan sejarah ekonomi negara itu angka tersebut sudah tinggi karena tahun 2020 inflasi Jepang 0,0%, bahkan 2021 terjadi deflasi -0,2%.

Menurut perhitungan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia di awal tahun 2022 ini (data sampai Februari 2022) inflasinya mencapai 2,1%. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 April 2022 mengumumkan inflasi tahun ke tahun Indonesia mencapai 2,64%. Angka ini relatif rendah dibandingkan tahun 2019 tetapi sudah lebih tinggi dari 2020 dan 2021.

Dengan angka inflasi 2,64% itu jelas kita tidak dapat memandang Indonesia masih aman. Saat ini gelombang tsunami inflasi dunia itu baru ‘ujungnya’ saja yang sudah melanda Indonesia. Cepat atau lambat, gelombang besarnya juga akan tiba.

Hal tersebut terjadi karena saat ini dunia tengah menghadapi ‘lima-krisis pasca pandemi’ yang sangat serius, dan Indonesia juga ‘tidak imun’ dari kelima krisis itu.

Pertama, krisis pemulihan yang tak seimbang. Setelah dunia sepertinya mampu mengendalikan Covid-19, ekonomi mulai bangkit kembali. Namun demikian proses pemulihan berjalan tidak seimbang. Sisi permintaan pulih lebih cepat dari sisi penawaran.

Kita dapat melihat, pusat-pusat belanja yang mulai penuh dengan orang-orang yang berbelanja, masyarakat dunia mulai melakukan perjalanan, hotel dan restoran mulai terisi penuh, hajatan dan perhelatan mulai marak, belanja pakaian, elektronik, dan barang-barang lain mulai meningkat.

Namun sisi penawaran pulih lebih lambat. Hal ini terutama terjadi akibat situasi di sektor ketenagakerjaan. Perubahan kembali ke work from office tidak secepat pada saat diputuskan work from home. Mereka yang terpaksa dirumahkan karena aktivitas produksi berhenti atau berkurang, tidak mudah kembali ke tempat kerjanya dengan berbagai alasan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!