Harga Perdamaian: Murah?
Rabu, 09 Maret 2022 - 06:00 WIB
Serangan Rusia tidak hanya mengubah Ukraina dan Russia, dan bagaimana keduanya saling mendendam, tetapi juga pada bangsa-bangsa umumnya, pada keuangan, kesejahteraan, pendidikan, dan perubahan iklim. Keuangan negara-negara itu kini bisa berubah.
Dukungan masyarakat Jerman pada strategi peningkatan keamanan juga meningkat. Mereka rela memotong anggaran kehidupan demi keamanan. Perang harganaya mahal. Harga itu tidak hanya dibayar oleh Rusia dan Ukraina.
Harga itu dibayar manusia pada umumnya. Eropa, Amerika, dan mungkin negara-negara Asia, termasuk Indonesia akan ikut memikulnya. Perang akan mengubah peta. Saat ini dunia semakin terhubung. Tidak mungkin konflik di Eropa Timur berhenti begitu saja di sana.
Dunia ikut menanggungnya, sebagaimana krisis ekonomi beberapa saat lalu. Krisis politik juga sama menularnya. Perdamaian jauh lebih murah, perang jauh lebih mahal. Perang dibayar di muka dan di belakang. Bayangkan berapa harga senjata, pesawat, bom, dan pasukan Rusia untuk menyerang Ukraina.
Berapa harga gedung-gedung Ukraina yang dihancurkan dan nantinya akan dibangun kembali setelah perang. Konon Rusia sudah kehilangan kurang lebih 70 milyar dolar Amerika, karena pasar bergolak dan saham-saham perusahaan Rusia anjlok harganya. Perang tidak pernah murah. Perang Afghanistan, misalnya, diperkirakan seharga 2, 3 trilyun dolar.
Belum dihitung nyawa manusia, gedung rusak, harga psikologi, harga dendam, harga kerusakan negara, dan gonjangan dunia. Perang tidak murah. Damai lebih murah.Perdamaian harganya dibayar dimuka, yaitu menahan diri. Damai itu murah dan dinikmati bersama, tetapi tidak terasa. Damai tidak gagah. Damai tidak mengalahkan. Damai tidak disadari.
Selama ini Amerika dan Rusia sudah menahan diri untuk mengecilkan setiap konflik di beberapa tempat. Bangsa Indonesia juga menahan diri, tidak menyebarkan konflik-konflik lokal ke skala nasional.
Sejak kemerdekaan, peristiwa paling besar adalah 1965. Pemerintah dan rakyat Indonesia memilih damai. Harganya mengalahkan diri sendiri, tidak ingin menang sendiri, menahan diri, dan memberi ruang pada orang lain. Damai murah dan tidak disadari.
Dukungan masyarakat Jerman pada strategi peningkatan keamanan juga meningkat. Mereka rela memotong anggaran kehidupan demi keamanan. Perang harganaya mahal. Harga itu tidak hanya dibayar oleh Rusia dan Ukraina.
Harga itu dibayar manusia pada umumnya. Eropa, Amerika, dan mungkin negara-negara Asia, termasuk Indonesia akan ikut memikulnya. Perang akan mengubah peta. Saat ini dunia semakin terhubung. Tidak mungkin konflik di Eropa Timur berhenti begitu saja di sana.
Dunia ikut menanggungnya, sebagaimana krisis ekonomi beberapa saat lalu. Krisis politik juga sama menularnya. Perdamaian jauh lebih murah, perang jauh lebih mahal. Perang dibayar di muka dan di belakang. Bayangkan berapa harga senjata, pesawat, bom, dan pasukan Rusia untuk menyerang Ukraina.
Berapa harga gedung-gedung Ukraina yang dihancurkan dan nantinya akan dibangun kembali setelah perang. Konon Rusia sudah kehilangan kurang lebih 70 milyar dolar Amerika, karena pasar bergolak dan saham-saham perusahaan Rusia anjlok harganya. Perang tidak pernah murah. Perang Afghanistan, misalnya, diperkirakan seharga 2, 3 trilyun dolar.
Belum dihitung nyawa manusia, gedung rusak, harga psikologi, harga dendam, harga kerusakan negara, dan gonjangan dunia. Perang tidak murah. Damai lebih murah.Perdamaian harganya dibayar dimuka, yaitu menahan diri. Damai itu murah dan dinikmati bersama, tetapi tidak terasa. Damai tidak gagah. Damai tidak mengalahkan. Damai tidak disadari.
Selama ini Amerika dan Rusia sudah menahan diri untuk mengecilkan setiap konflik di beberapa tempat. Bangsa Indonesia juga menahan diri, tidak menyebarkan konflik-konflik lokal ke skala nasional.
Sejak kemerdekaan, peristiwa paling besar adalah 1965. Pemerintah dan rakyat Indonesia memilih damai. Harganya mengalahkan diri sendiri, tidak ingin menang sendiri, menahan diri, dan memberi ruang pada orang lain. Damai murah dan tidak disadari.
(ams)