Meneropong Madura yang Lain
Senin, 21 Februari 2022 - 14:18 WIB
Ia memulai dengan ziarahnya ke masa lalu. Bukan sembarang ziarah. Ia mencoba mengulik bagaimana seonggok kuburun lebih dari sekadar gundukan tanah. Dalam pandangannya, yang ia tarik ke masa silam, semestinya ingatan tentang orang yang terbaring di liang lahat harus diruwat. Hanya dengan mengetahui kebenaran faktual tokoh historis, gundukan tanah tidak akan pernah sunyi—dalam arti yang hiperbolis.
Ia akan terus dan senantiasa hidup di kepala pengunjungnya. Ia amat menyayangkan sebab beberapa cagar budaya berupa makam kuno itu kurang terawat. Barangkali salah satu dari sekian penyababnya adalah minimnya literatur yang mencatat siapa yang terbaring di sana. Sementara tradisi oral (yang sedikit banyak mencatat itu) tidak serta merta dapat langgeng. Maka di sisi yang sama medium lain berupa tulisan harus hadir.
Hal tersebut juga mungkin punya kaitan erat dengan watak orang Madura yang diklaim pragmatis oleh Royyan. Dalam esai Kosmologi Pragmatis Manusia Madura, ia memulai dengan analisis komparatif dengan Jawa. Premisnya, Madura tidak mempunya ide-ide matafisik sebagaimana manusia Jawa. Kemurahan dan kesuburan tanah di Jawa memungkinkan orang di sana untuk merenungkan hal tersembunyi di balik semesta.
Di Madura tidak demikian, sebab waktu amat terbatas dan banyak dihabiskan untuk membajak tanah yang keras. Itulah yang sedikit banyak turut membentuk diri manusia Madura yang dinilai pekerja keras. Implikasinya nanti juga pada keberlangsungan makhluk hidup nonmanusia. Secara spesifik, relasi antara manusia Madura dengan alamnya punya ketimpangan.
Dalam esainya disebutkan, bahwa Madura memiliki watak ekologi-dangkal dan antroposentris, yang kaitannya dengan alam. Kepentingan manusia mempunyai hierarki paling tinggi dalam undakan kehidupan. Di seberangnya ada ekologi-dalam yang menyetarakan hierarki alam-manusia. Akibat ekologi-dangkal, tidak sedikit orang yang alpa terhadap keterawatan alam, kepentingan untuk senantiasa mengawetkannya.
Pemanfaatan terhadap sumber daya alam memang adalah hal yang niscaya, namun juga tidak harus sampai pada taraf eksploitatif. Semestinya, yang paling ideal, adalah ekologi-dalam ketika akan berbicara ihwal kelangsungkan makhluk hidup nonmanusia. Kesetaraan antara manusia dan nonmanusia hanya dicapai dalam pandangan ekologi-dalam(sebagaimana perspektif Royyan), bukan sebaliknya.
Secara empiris, kita memang akan disuguhkan dengan persoalan ekologi dalam taraf mengkhawatirkan. Tanah-tanah yang diperkosa oleh pemodal sehingga kehilangan daya magicnya. Sebagaimana yang disebutkan penulis, semula tanah tidak hanya petakan yang ditumbuhi tanaman. Ia adalah wasilah antara insan hidup dan moyang di dunia lain. Dengan begitu, menjual tanah adalah hal yang seharusnya dihindari serta tabu.
Ia akan terus dan senantiasa hidup di kepala pengunjungnya. Ia amat menyayangkan sebab beberapa cagar budaya berupa makam kuno itu kurang terawat. Barangkali salah satu dari sekian penyababnya adalah minimnya literatur yang mencatat siapa yang terbaring di sana. Sementara tradisi oral (yang sedikit banyak mencatat itu) tidak serta merta dapat langgeng. Maka di sisi yang sama medium lain berupa tulisan harus hadir.
Hal tersebut juga mungkin punya kaitan erat dengan watak orang Madura yang diklaim pragmatis oleh Royyan. Dalam esai Kosmologi Pragmatis Manusia Madura, ia memulai dengan analisis komparatif dengan Jawa. Premisnya, Madura tidak mempunya ide-ide matafisik sebagaimana manusia Jawa. Kemurahan dan kesuburan tanah di Jawa memungkinkan orang di sana untuk merenungkan hal tersembunyi di balik semesta.
Di Madura tidak demikian, sebab waktu amat terbatas dan banyak dihabiskan untuk membajak tanah yang keras. Itulah yang sedikit banyak turut membentuk diri manusia Madura yang dinilai pekerja keras. Implikasinya nanti juga pada keberlangsungan makhluk hidup nonmanusia. Secara spesifik, relasi antara manusia Madura dengan alamnya punya ketimpangan.
Dalam esainya disebutkan, bahwa Madura memiliki watak ekologi-dangkal dan antroposentris, yang kaitannya dengan alam. Kepentingan manusia mempunyai hierarki paling tinggi dalam undakan kehidupan. Di seberangnya ada ekologi-dalam yang menyetarakan hierarki alam-manusia. Akibat ekologi-dangkal, tidak sedikit orang yang alpa terhadap keterawatan alam, kepentingan untuk senantiasa mengawetkannya.
Pemanfaatan terhadap sumber daya alam memang adalah hal yang niscaya, namun juga tidak harus sampai pada taraf eksploitatif. Semestinya, yang paling ideal, adalah ekologi-dalam ketika akan berbicara ihwal kelangsungkan makhluk hidup nonmanusia. Kesetaraan antara manusia dan nonmanusia hanya dicapai dalam pandangan ekologi-dalam(sebagaimana perspektif Royyan), bukan sebaliknya.
Secara empiris, kita memang akan disuguhkan dengan persoalan ekologi dalam taraf mengkhawatirkan. Tanah-tanah yang diperkosa oleh pemodal sehingga kehilangan daya magicnya. Sebagaimana yang disebutkan penulis, semula tanah tidak hanya petakan yang ditumbuhi tanaman. Ia adalah wasilah antara insan hidup dan moyang di dunia lain. Dengan begitu, menjual tanah adalah hal yang seharusnya dihindari serta tabu.
Lihat Juga :