Wadas dan Kecerdasan Ekologis
Sabtu, 19 Februari 2022 - 10:22 WIB
Pembangunan berkelanjutan sudah menjadi agenda global. Adanya krisis ekologis yang mendasari pentingnya pembangunan berkelanjutan. Krisis ekologis telah menyebabkan suhu bumi naik 2 derajat celcius pasca-Revolusi Industri (1880). Akibat krisis ekologis bencana ekstrem terus terjadi seperti banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, krisis air bersih, longsor, dan kenaikan permukaan laut. Kini negara-negara di dunia telah berkomitmen untuk menahan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius.
Ironisnya, saat kesadaran dunia untuk menahan laju suhu global, justru emisi karbon dunia meningkat. Data Bloomberg yang diolah HSBC Global Private Banking menyebutkan pada 2020 total emisi karbon dunia mencapai 34.000 juta ton karbon dioksida (CO2). Peningkaatan paling signifikan disumbangkan oleh negara-negara Asia sejak dekade 2000 hingga 2020. Padahal, dekade sebelumnya, Eropa dan Amerika Serikat menjadi penyumbang emisi karbon terbesar.
Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Paris, melalui Undang-Undang No 16/2016 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Perubahan Iklim. Persetujuan Paris merupakan perjanjian internasional yang ditandatangani oleh 196 negara pada Konferensi Perubahan Iklim (COP) 21 di Paris (12 Desember 2015). Perjanjian Paris mewajibkan setiap negara untuk mencegah kenaikan suhu bumi tidak melewati 2 derajat celcius.
Dalam dokumen Nationally Determenied Contribution (NDC), Indonesia berkomitmen mengupayakan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 41% pada 2030 dengan dukungan internasional atau 29% dengan usaha sendiri. Programnya pemerintah akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau yaitu pertumbuhan ekonomi yang kuat, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta pembangunan yang inklusif secara sosial (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2021).
Ekopedagogik
Upaya untuk merawat kelestarian bumi harus menjadi tindakan nyata seluruh warga dunia. Ini bisa berjalan apabila setiap orang memiliki kesadaran dalam berperilaku yang ramah terhadap lingkungan.
Sikap tidak ramah lingkungan yang mengakibatkan terjadinya krisis ekologis akibat kelirunya manusia dalam memperlakukan alam. Oleh karenanya, Arne Naess (dalam Keraf, 2002) menyatakan krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam secara fundamental dan radikal.
Ironisnya, saat kesadaran dunia untuk menahan laju suhu global, justru emisi karbon dunia meningkat. Data Bloomberg yang diolah HSBC Global Private Banking menyebutkan pada 2020 total emisi karbon dunia mencapai 34.000 juta ton karbon dioksida (CO2). Peningkaatan paling signifikan disumbangkan oleh negara-negara Asia sejak dekade 2000 hingga 2020. Padahal, dekade sebelumnya, Eropa dan Amerika Serikat menjadi penyumbang emisi karbon terbesar.
Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Paris, melalui Undang-Undang No 16/2016 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Perubahan Iklim. Persetujuan Paris merupakan perjanjian internasional yang ditandatangani oleh 196 negara pada Konferensi Perubahan Iklim (COP) 21 di Paris (12 Desember 2015). Perjanjian Paris mewajibkan setiap negara untuk mencegah kenaikan suhu bumi tidak melewati 2 derajat celcius.
Dalam dokumen Nationally Determenied Contribution (NDC), Indonesia berkomitmen mengupayakan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 41% pada 2030 dengan dukungan internasional atau 29% dengan usaha sendiri. Programnya pemerintah akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau yaitu pertumbuhan ekonomi yang kuat, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta pembangunan yang inklusif secara sosial (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2021).
Ekopedagogik
Upaya untuk merawat kelestarian bumi harus menjadi tindakan nyata seluruh warga dunia. Ini bisa berjalan apabila setiap orang memiliki kesadaran dalam berperilaku yang ramah terhadap lingkungan.
Sikap tidak ramah lingkungan yang mengakibatkan terjadinya krisis ekologis akibat kelirunya manusia dalam memperlakukan alam. Oleh karenanya, Arne Naess (dalam Keraf, 2002) menyatakan krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam secara fundamental dan radikal.
Lihat Juga :