Pesan Penting Presiden untuk Insan Pers

Kamis, 10 Februari 2022 - 11:37 WIB
Pemerintah akan menata platform digital asing demi mewujudkan ekosistem media yang adil dan setara bagi platform lokal Tanah Air. (KORAN SINDO/Wawan Bastian)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan sejumlah hal penting dalam pidatonya pada peringatan Hari Pers Nasional 2022 yang disampaikannya secara daring dari Istana Bogor, kemarin. Dalam sambutan Presiden, terdapat dua poin utama yang selayaknya patut dicermati karena amat menentukan arah masa depan pers Tanah Air. Pertama, sorotan Presiden mengenai kehadiran sumber-sumber informasi saat ini yang hanya mengejar clickbait. Kedua, pernyataan Presiden soal ekosistem industri pers yang harus terus ditata dengan menciptakan iklim kompetisi yang lebih seimbang antara platform global dengan platform lokal. Khusus poin kedua ini, yakni perlunya kesetaraan dan keadilan dalam ekosistem digital memang jadi isu krusial dan jadi tema yang banyak dibahas belakangan ini.

Dua hal yang disampaikan Presiden di atas memang cerminan dari realitas pers Tanah Air dalam beberapa tahun belakangan ini. Menyoal media "clickbait", faktanya memang sumber-sumber informasi seperti ini tumbuh dan berkembang dengan subur. Muncul tren memproduksi informasi yang sifatnya hanya mengejar klik atau views, konten-konten yang hanya mengejar viral. Value atau nilai dari sebuah informasi bukan lagi yang utama. Fungsi media massa memang sebagai sumber informasi, selain fungsi pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Namun, informasi yang disajikan seharusnya adalah yang bernilai, bermanfaat, mencerahkan, konstruktif, solutif, membuka pada jalan kebaikan, dan tidak semata menyuguhkan apa yang menarik bagi publik. Menarik dan diinginkan tidak berarti selalu memberi nilai manfaat bagi khalayak.



Realitas ini menjadi tantangan tersendiri bagi insan pers. Masalah dari dalam diri sendiri berupa integritas yang tergerus ini yang harus bisa diselesaikan. Salah satu faktor pembeda media arus utama dengan media sosial adalah tanggung jawab sosial yang dimilikinya. Selayaknya ini yang terus dipegang teguh dalam melayani publik.

Masalah internal lain yakni munculnya media yang dibentuk untuk membela kepentingan pihak tertentu tanpa mengindahkan prinsip-prinsip kerja jurnalistik yang profesional dan menjunjung tinggi kode etik. Model media seperti ini yang juga sering menimbulkan keresahan publik.

Atas berbagai persoalan yang bersumber dari dalam ini perlu kesungguhan dari pelaku media sendiri. Harus ada kesadaran untuk berbenah dan memperbaiki keadaan. Di tengah beragam tantangan, Presiden Jokowi dalam pidatonya kemarin juga mengingatkan perlunya media arus utama memperbaiki kelemahan yang dimilikinya ini.

Pers memang sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Selain imbas dari pandemi Covid-19 dan tantangan internal tadi, masalah yang tak kalah peliknya adalah disrupsi digital. Kehadiran berbagai platform media digital, termasuk media sosial, dalam beberapa tahun terakhir telah menggerus eksistensi media arus utama. Sudah banyak institusi media yang harus gugur terutama mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat dan melakukan inovasi-inovasi. Dalam situasi kurang menguntungkan ini tak ada pilihan bagi arus utama selain melakukan konvergensi konten dengan memanfaatkan platform digital. Jalan ini memungkinkan media arus utama untuk menyajikan konten yang lebih interaktif dan dengan jangkauan audiens yang lebih tak terbatas. Ini salah satu jawaban bagi media arus utama untuk bisa tetap bertahan bahkan menemukan momentum untuk kembali bangkit di tengah ketatnya persaingan di industri media hari ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!