IDI dan Organisasi Sarang Laba-Laba
Senin, 24 Januari 2022 - 11:58 WIB
Filosofi Sarang Laba-Laba
Laba-laba adalah makhuk Tuhan yang sangat sabar. Laba-laba sabar dalam membuat sarangnya sekalipun sangat melelahkan sebab harus mengeluarkan banyak protein untuk membuat sutra; sabar dalam memasang jebakan dan menunggu mangsanya; sabar dan lentur bila diterpa angin kencang dan hujan deras. Bila sarangnya rusak maka ia pun sabar dan bangkit kembali untuk memperbaiki sarang, lalu menunggu sampai tujuannya tercapai. Ketika terjatuh ia segera memanjat naik menggunakan helai sutranya. Aktivitas laba-laba berlangsung secara terbuka, transparan. Laba-laba menghadapi segala rintangan dengan sabar.
Di dalam Alquran Tuhan menggambarkan sarang laba-laba sebagai rumah yang lemah dan rapuh. Berbeda dengan sarang lebah yang digambarkan sebagai bangunan efektif, efisien, dan kokoh. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan lemahnya sarang laba-laba disebabkan karena ketidakmampuannya melindungi dari cuaca panas, hujan, terpaan angin, dan tak bisa menjadi pelindung dari rasa dingin.
Umumnya yang membuat sarang adalah laba-laba betina. Laba-laba betina bertingkah di depan sarangnya agar sang jantan terpincut dan mendekatinya. Setelah laba-laba jantan berada di sarang dan mengawini laba-laba betina, laba-laba betina akan menangkap dan memangsanya. Bahkan ia akan memangsa anak-anaknya jika mereka tidak sempat kabur. Begitulah kehidupan laba-laba.
Sekalipun dikatakan lemah dan keluarganya tidak harmonis, tetap saja laba-laba unik dan memilki kelebihan. Laba-laba menarik minat banyak peneliti dan pembelajar untuk mengamati dan mempelajarinya. Pintalan jaring sutera yang membentuk struktur sarang laba-laba didesain saling tekoneksi satu dengan yang lain.
Koneksi jaring yang sempurna merupakan saluran informasi yang baik, menjadikan setiap masalah di bagian mana pun terjadi selalu tersampaikan kepada induknya (laba-laba betina). Koneksi jaring juga menjadi jalan (lalu lintas) tanpa hambatan bagi laba-laba untuk mengunjungi simpul-simpul yang ia dikehendaki. Tidak mengherankan bila orang menggunakan pola sarang laba-laba untuk membuat sosiometri.
Sebagian ilmuan mengatakan bahwa kekuatan tarik dari jaring sutra laba-laba lebih besar daripada baja dan memiliki elastisitas dan tingkat penyesuaiaan yang jauh lebih besar. Pada jaring laba-laba terdapat bagian yang memiliki perekat atau lengket dan bagian yang tidak lengket. Induk laba-laba mengetahui dan mampu membedakan bagian-bagian tersebut. Karena itu, laba-laba dapat dengan sigap bergerak menyergap mangsanya tanpa harus takut terperangkap oleh jaringnya sendiri.
Laba-laba adalah makhuk Tuhan yang sangat sabar. Laba-laba sabar dalam membuat sarangnya sekalipun sangat melelahkan sebab harus mengeluarkan banyak protein untuk membuat sutra; sabar dalam memasang jebakan dan menunggu mangsanya; sabar dan lentur bila diterpa angin kencang dan hujan deras. Bila sarangnya rusak maka ia pun sabar dan bangkit kembali untuk memperbaiki sarang, lalu menunggu sampai tujuannya tercapai. Ketika terjatuh ia segera memanjat naik menggunakan helai sutranya. Aktivitas laba-laba berlangsung secara terbuka, transparan. Laba-laba menghadapi segala rintangan dengan sabar.
Di dalam Alquran Tuhan menggambarkan sarang laba-laba sebagai rumah yang lemah dan rapuh. Berbeda dengan sarang lebah yang digambarkan sebagai bangunan efektif, efisien, dan kokoh. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan lemahnya sarang laba-laba disebabkan karena ketidakmampuannya melindungi dari cuaca panas, hujan, terpaan angin, dan tak bisa menjadi pelindung dari rasa dingin.
Umumnya yang membuat sarang adalah laba-laba betina. Laba-laba betina bertingkah di depan sarangnya agar sang jantan terpincut dan mendekatinya. Setelah laba-laba jantan berada di sarang dan mengawini laba-laba betina, laba-laba betina akan menangkap dan memangsanya. Bahkan ia akan memangsa anak-anaknya jika mereka tidak sempat kabur. Begitulah kehidupan laba-laba.
Sekalipun dikatakan lemah dan keluarganya tidak harmonis, tetap saja laba-laba unik dan memilki kelebihan. Laba-laba menarik minat banyak peneliti dan pembelajar untuk mengamati dan mempelajarinya. Pintalan jaring sutera yang membentuk struktur sarang laba-laba didesain saling tekoneksi satu dengan yang lain.
Koneksi jaring yang sempurna merupakan saluran informasi yang baik, menjadikan setiap masalah di bagian mana pun terjadi selalu tersampaikan kepada induknya (laba-laba betina). Koneksi jaring juga menjadi jalan (lalu lintas) tanpa hambatan bagi laba-laba untuk mengunjungi simpul-simpul yang ia dikehendaki. Tidak mengherankan bila orang menggunakan pola sarang laba-laba untuk membuat sosiometri.
Sebagian ilmuan mengatakan bahwa kekuatan tarik dari jaring sutra laba-laba lebih besar daripada baja dan memiliki elastisitas dan tingkat penyesuaiaan yang jauh lebih besar. Pada jaring laba-laba terdapat bagian yang memiliki perekat atau lengket dan bagian yang tidak lengket. Induk laba-laba mengetahui dan mampu membedakan bagian-bagian tersebut. Karena itu, laba-laba dapat dengan sigap bergerak menyergap mangsanya tanpa harus takut terperangkap oleh jaringnya sendiri.
Lihat Juga :