Malfungsi Rokok dan Mimpi Merawat Generasi

Sabtu, 06 Juni 2020 - 10:10 WIB
Sumber data lain bahkan menyebutkan kini, dua dari lima anak Indonesia berusia 10-15 tahun mengisap 12 batang rokok per hari. Sungguh mengkhawatirkan di tengah harapan bonus demografi penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 64% dari total penduduk 297 juta jiwa pada tahun 2030-2040.

Sayangnya, saat berbicara rokok kita kerap terjebak berbagai mispersepsi. Padahal secara kategori, produk rokok sama dengan alkohol dan obat yang legal beredar namun harus diatur ketat konsumsinya.

Kita sering lupa bahwa persoalan utama paparan rokok, obat, dan minuman beralkohol terhadap anak, tidak seharusnya hanya berkutat pada produknya bermasalah, tetapi penyalahgunaan (malfungsi) konsumsinya.

Harus diakui, rokok yang berbahan baku tembakau dan cengkeh punya dimensi ekonomi dan tradisi panjang di Indonesia. Sektor ini menyerap total tenaga kerja 5,9 juta orang sekaligus menjadi penyumbang utama pendapatan cukai nasional. Indonesia juga adalah produsen nomor satu cengkeh dan terbesar keenam untuk tembakau di dunia.

Meski begitu, penyalahgunaan konsumsi kepada kelompok yang bukan semestinya seperti anak adalah sebuah kekeliruan. Pada anak, pangkal persoalan terjadi karena rokok mudah dijangkau peredaran maupun harganya. Akses rokok pada anak datang dari berbagai sumber, termasuk warung di dekat sekolah. Ini karena ada kaidah konsumsi dan distribusi yang diabaikan.

Demikian pula dengan harga. Setiap tahun pemerintah menaikkan cukai rokok dan memaksa harga rokok naik, bahkan mewajibkan harga jual dicetak di pita cukai bungkus rokok. Kenyataannya, banyak sekali merek yang harganya jauh lebih rendah dari harga minimal dari pemerintah. Akibatnya, harga rokok tetap saja terjangkau kantong anak-anak. Alhasil, kemudahan akses terhadap barang dan harga yang murah menjadi kombinasi yang sangat mendukung untuk anak terpapar konsumsi rokok.

Bisa dibayangkan betapa besar kerusakan yang timbul manakala persoalan ini tak segera dibereskan. Data Statistik Pendidikan 2019 menunjukkan sampai tahun ajaran 2018/2019, jumlah sekolah dari mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, termasuk sekolah menengah kejuruan, mencapai 216.066 sekolah dengan jumlah siswa hingga 45,07 juta jiwa. Sungguh angka yang luar biasa besar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!