Usman Hamid: Nasionalisme Berlebihan Menguat, Gerus Demokratisasi Habibie dan Gus Dur

Jum'at, 01 Oktober 2021 - 17:32 WIB
"Apakah mereka mendasarkan itu kepada pengalaman subjektif mereka atau pengalaman-pengalaman sosialnya terkait ketegangan subkultur. Misalnya antara yang nasionalis, yang muslim islamis atau katakanlah sosialis yang kiri, yang komunis. Sampai saat ini belum ada yang bisa menjelaskan sangat lengkap," ujar dia.

Baca juga: Usman Hamid: Melawan Korupsi dan Kedzaliman Wajib Dilindungi Bukan Disingkirkan

Lebih lanjut, Usman berpendapat bahwa Pancasila yang dibayangkan para pendiri Indonesia telah berbeda dalam praktik politik hari ini. Bahkan, penerapan Pancasila saat ini mereplikasi tafsir Orde Baru.

"Sehingga Pancasila itu ditafsirkan dalam kebenaran tunggal dalam versi otoritas, versi kekuasaan, bukan versi yang terbuka, di mana inspirasi-inspirasi Islam atau inspirasi komunisme itu diterima. Itu yang nggak ada menurut saya," kata Usman.

Yang terjadi, lanjut dia, ketakutan pada Islam dan komunisme terus didaur ulang. Ini merupakan politisasi yang nyaris tanpa henti kendati sebenarnya dari keduanya tafsir atas Pancasila bisa dibuka.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!