Antisipasi Perubahan Iklim, Jokowi: Rehabilitasi Mangrove Akan Terus Dilakukan
Selasa, 28 September 2021 - 15:55 WIB
Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan guna meningkatkan daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam menjaga sistem penyangga kehidupan. Hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut yaitu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Hartono Prawiraatmaja, Gubernur Riau Syamsuar, dan Bupati Bengkalis Kasmarni.
Kepala BRGM Hartono mengatakan, kegiatan rehabilitasi mangrove di Kabupaten Bengkalis adalah seluas 973 hektare. Sejauh ini, telah ditanam sekitar 1,4 juta bibit mangrove pada areal seluas 464 hektare dan dilaksanakan oleh 24 kelompok masyarakat setempat.
Melihat progres ini, Hartono mengaku optimistis rehabilitasi mangrove yang ditargetkan Jokowi akan rampung tahun ini. Bahkan, pihaknya terus menggencarkan penanaman mangrove di sembilan provinsi seperti Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat. “Guna mempercepat rehabilitasi mangrove, kami juga melibatkan masyarakat sekitar melalui metode padat karya, sehingga penanaman mangrove juga akan cepat rampung sesuai target. Jadi ini tak hanya untuk memperbaiki ekosistem mangrove tapi juga menjadi salah satu upaya pemerintah mendorong percepatan pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19,” ucapnya.
Rehabilitasi mangrove yang dilakukan BRGM bersama KLHK melalui BPDASHL dengan pola Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ini tak hanya bertujuan menjaga ekosistem tapi juga bisa memberikan tambahan penghasilan untuk masyarakat. “Kita ingin program BRGM ini menguntungkan masyarakat, meningkatkan taraf hidup dan daya beli, serta memberikan sumber penghasilan baru, sehingga ekosistem terjaga, masyarakat pun sejahtera,” pungkas Hartono.
Sebagai negara yang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia dengan luas 3,36 juta hektare, maka rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh pemerintah merupakan salah satu upaya melindungi negara, karena kerusakan mangrove dapat memengaruhi perubahan iklim di Indonesia dan juga dunia.
Kepala BRGM Hartono mengatakan, kegiatan rehabilitasi mangrove di Kabupaten Bengkalis adalah seluas 973 hektare. Sejauh ini, telah ditanam sekitar 1,4 juta bibit mangrove pada areal seluas 464 hektare dan dilaksanakan oleh 24 kelompok masyarakat setempat.
Melihat progres ini, Hartono mengaku optimistis rehabilitasi mangrove yang ditargetkan Jokowi akan rampung tahun ini. Bahkan, pihaknya terus menggencarkan penanaman mangrove di sembilan provinsi seperti Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat. “Guna mempercepat rehabilitasi mangrove, kami juga melibatkan masyarakat sekitar melalui metode padat karya, sehingga penanaman mangrove juga akan cepat rampung sesuai target. Jadi ini tak hanya untuk memperbaiki ekosistem mangrove tapi juga menjadi salah satu upaya pemerintah mendorong percepatan pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19,” ucapnya.
Rehabilitasi mangrove yang dilakukan BRGM bersama KLHK melalui BPDASHL dengan pola Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ini tak hanya bertujuan menjaga ekosistem tapi juga bisa memberikan tambahan penghasilan untuk masyarakat. “Kita ingin program BRGM ini menguntungkan masyarakat, meningkatkan taraf hidup dan daya beli, serta memberikan sumber penghasilan baru, sehingga ekosistem terjaga, masyarakat pun sejahtera,” pungkas Hartono.
Sebagai negara yang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia dengan luas 3,36 juta hektare, maka rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh pemerintah merupakan salah satu upaya melindungi negara, karena kerusakan mangrove dapat memengaruhi perubahan iklim di Indonesia dan juga dunia.
(cip)
Lihat Juga :