PDIP dan Kedubes India Bertemu Bahas E-Voting, Covid-19 hingga Taliban
Senin, 06 September 2021 - 16:54 WIB
Kata dia, soal e-voting, India sudah lama merencanakan dan membahasnya. Diapun mengundang jika jajaran PDIP hendak mempelajarinya dengan datang langsung ke India. "Silakan berkunjung ke India," kata Basir.Baca juga: Airlangga Sebut 5 Juta Dosis Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia
Pembicaraan juga menyentuh isu Laut China Selatan (LCS) dan militer. Hasto mengatakan India mempunyai strategi yang menarik karena menjalin kerja sama militer, baik dengan Rusia dan Amerika Serikat (AS) sekaligus. Basir tak banyak menjawab soal hubungan militer negaranya dengan Rusia dan AS. Namun dia menekankan pihaknya justru ingin belajar ke Indonesia yang selalu bisa menyampaikan pesan dan posisi diplomasi yang jelas di dunia internasional. "Indonesia selalu kami anggap sebagai partner strategis," kata Basir.
Basir lalu berbicara soal isu Afghanistan dan Taliban, yang merupakan tetangga langsung India dari sisi kewilayahan.
Hasto lalu menjelaskan pihaknya memahami betul dampak kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan di Afghanistan. Sebagai partai nasionalis yang selalu teguh memegang Pancasila dan kebinekaan, Hasto mengatakan PDIP selalu menjadi target kampanye negatif kelompok garis keras. Namun serangan itu justru membuktikan bahwa strategi paling efektif membendung gerakan radikalisme adalah dengan terus memperkuat demokratisasi dan dukungan atas kebhinekaan. "Kami konsisten untuk mendorong nasionalisme dengan semangat persamaan hak semua warga negara. Ya kami juga mengakui dan melihat bagaimana PDIP mendorong moderasi," ujar Basir menanggapi.
Covid-19 juga menjadi topik pembahasan. Keduanya saling menceritakan pengalaman menghadapi pandemi dan dampaknya yang berat terhadap perekonomian. Basir lalu mengatakan India siap bekerja sama dengan Indonesia dalam menghadapi pandemi covid. Termasuk kemungkinan membangun pabrik manufaktur vaksin Covid-19 di Indonesia. Hasto mengapresiasi hal tersebut dan menyatakan Indonesia selalu membuka diri untuk bekerja sama dengan India. "Kami mendukung penguatan kerja sama Indonesia dan India," kata Hasto.
Pembicaraan juga menyentuh isu Laut China Selatan (LCS) dan militer. Hasto mengatakan India mempunyai strategi yang menarik karena menjalin kerja sama militer, baik dengan Rusia dan Amerika Serikat (AS) sekaligus. Basir tak banyak menjawab soal hubungan militer negaranya dengan Rusia dan AS. Namun dia menekankan pihaknya justru ingin belajar ke Indonesia yang selalu bisa menyampaikan pesan dan posisi diplomasi yang jelas di dunia internasional. "Indonesia selalu kami anggap sebagai partner strategis," kata Basir.
Basir lalu berbicara soal isu Afghanistan dan Taliban, yang merupakan tetangga langsung India dari sisi kewilayahan.
Hasto lalu menjelaskan pihaknya memahami betul dampak kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan di Afghanistan. Sebagai partai nasionalis yang selalu teguh memegang Pancasila dan kebinekaan, Hasto mengatakan PDIP selalu menjadi target kampanye negatif kelompok garis keras. Namun serangan itu justru membuktikan bahwa strategi paling efektif membendung gerakan radikalisme adalah dengan terus memperkuat demokratisasi dan dukungan atas kebhinekaan. "Kami konsisten untuk mendorong nasionalisme dengan semangat persamaan hak semua warga negara. Ya kami juga mengakui dan melihat bagaimana PDIP mendorong moderasi," ujar Basir menanggapi.
Covid-19 juga menjadi topik pembahasan. Keduanya saling menceritakan pengalaman menghadapi pandemi dan dampaknya yang berat terhadap perekonomian. Basir lalu mengatakan India siap bekerja sama dengan Indonesia dalam menghadapi pandemi covid. Termasuk kemungkinan membangun pabrik manufaktur vaksin Covid-19 di Indonesia. Hasto mengapresiasi hal tersebut dan menyatakan Indonesia selalu membuka diri untuk bekerja sama dengan India. "Kami mendukung penguatan kerja sama Indonesia dan India," kata Hasto.
Lihat Juga :