Menakar Taliban 2.0
Kamis, 26 Agustus 2021 - 14:27 WIB
Kemudian, berlangsungnya evakuasi oleh negara asing selama berhari-hari di Bandara Internasional Kabul hingga hari ini juga menunjukkan Taliban tidak memiliki niatan untuk menghalangi proses evakuasi tersebut dan bahwa Taliban peduli untuk menampilkan citra yang "lebih ramah" di mata internasional. Di tengah arus globalisasi saat ini, Taliban menyadari bahwa mereka tidak mungkin kembali hidup dalam isolasi seperti era pemerintahan mereka sebelumnya.
Meskipun demikian, masih banyak janji-janji Taliban yang lain yang harus kita tunggu untuk diwujudkan di lapangan, untuk membuktikan bahwa Taliban telah bertransformasi menjadi Taliban 2.0. Menurut penulis, titik kritis di sini adalah apakah Taliban dalam beberapa waktu ke depan mampu membentuk pemerintahan yang inklusif dengan adanya keterwakilan etnis dan agama, mengingat faktor inilah yang sebelumnya menjadi faktor utama konflik dan perang sipil di Afghanistan. Jika inklusiivitas ini dapat terwujud, maka berbagai aspirasi lain dari berbagai kelompok, misalnya terkait hak wanita, kebebasan pers, hak pendidikan dan sebagainya dapat dikompromikan untuk diwujudkan dalam batas tertentu, meskipun tidak selalu harus sama dengan standar Barat.
Namun di sisi lain, komunitas internasional perlu memberikan "ruang" kepada Taliban untuk membuktikan bahwa mereka telah berubah dan menjadi lebih acceptable bagi dunia luar. Penghakiman yang terlalu dini oleh berbagai media terhadap proses yang sedang berlangsung di Afghanistan hanya akan meningkatkan distrust antarkelompok di internal negara tersebut dan akan bersifat kontraproduktif terhadap konsolidasi politik yang tengah berlangsung. Pada intinya, dunia internasional harus memberikan kesempatan kepada masyarakat Afghanistan, yang dalam hal ini juga termasuk Taliban untuk menemukan solusi mereka sendiri. Intervensi asing di Afghanistan bukan lagi jawaban yang relevan jika kita tidak ingin mengulang kegagalan AS dan NATO di Afghanistan 20 tahun lalu.
Meskipun demikian, masih banyak janji-janji Taliban yang lain yang harus kita tunggu untuk diwujudkan di lapangan, untuk membuktikan bahwa Taliban telah bertransformasi menjadi Taliban 2.0. Menurut penulis, titik kritis di sini adalah apakah Taliban dalam beberapa waktu ke depan mampu membentuk pemerintahan yang inklusif dengan adanya keterwakilan etnis dan agama, mengingat faktor inilah yang sebelumnya menjadi faktor utama konflik dan perang sipil di Afghanistan. Jika inklusiivitas ini dapat terwujud, maka berbagai aspirasi lain dari berbagai kelompok, misalnya terkait hak wanita, kebebasan pers, hak pendidikan dan sebagainya dapat dikompromikan untuk diwujudkan dalam batas tertentu, meskipun tidak selalu harus sama dengan standar Barat.
Namun di sisi lain, komunitas internasional perlu memberikan "ruang" kepada Taliban untuk membuktikan bahwa mereka telah berubah dan menjadi lebih acceptable bagi dunia luar. Penghakiman yang terlalu dini oleh berbagai media terhadap proses yang sedang berlangsung di Afghanistan hanya akan meningkatkan distrust antarkelompok di internal negara tersebut dan akan bersifat kontraproduktif terhadap konsolidasi politik yang tengah berlangsung. Pada intinya, dunia internasional harus memberikan kesempatan kepada masyarakat Afghanistan, yang dalam hal ini juga termasuk Taliban untuk menemukan solusi mereka sendiri. Intervensi asing di Afghanistan bukan lagi jawaban yang relevan jika kita tidak ingin mengulang kegagalan AS dan NATO di Afghanistan 20 tahun lalu.
(bmm)
Lihat Juga :