Bahaisme
Jum'at, 13 Agustus 2021 - 12:38 WIB
Dari 1848-1853, kaum Babis memberontak terhadap pemerintah Iran di kota Mazandaran (Oktober 1848-Mei 1849), di Nayriz (Mei-Juni 1850 dan Oktober-Desember 1853), di Zanjan (Mei 1850-Januari 1851) dan di Teheran (1850). Semua pemberontakan ini ditumpas oleh pasukan pemerintah Iran dengan menggunakan kekerasan senjata, akibatnya banyak kaum Babis yang tewas. Pasca-eksekusi mati Bab dan pascapemberontakan, kaum Babis terlibat konflik internal, akibatnya mereka terpecah menjadi dua golongan, yaitu kaum Bahais dan kaum Azalis. Kaum Azalis dipimpin oleh Subhi Azal (saudara tiri Bahaullah) dan kelompok Bahais yang dipimpin oleh Bahaullah.
Dari Babisme ke Bahaisme
Nama asli Bahaullah adalah Mirza Husain Ali, dilahirkan pada 12 Nopember 1817 di Teheran. Ketika Bab mendeklarasikan misinya pada 1844, Mirza Husain Ali sangat mendukung misi Bab. Tidak seperti kebanyakan pemberontak kaum Babis lainnya yang dijatuhi hukuman mati, Mirza Husain Ali dibebaskan oleh pemerintah Iran dengan syarat harus meninggalkan Iran. Pada 1853, Mirza Husain Ali meninggalkan Iran dan hidup dalam pengasingan di Baghdad bersama keluarganya. Syah Iran mendesak penguasa Turki untuk memerintahkan Mirza Husain Ali agar pindah lebih jauh dari perbatasan Iran. Dia pun pindah ke Konstantinopel lalu ke Edirne pada 1863.
Mirza Husain Ali mendeklarasikan dirinya sebagai Bahaullah (Sang Wajah Kebesaran Tuhan) yang menurut dia kedatangannya telah diramalkan oleh Bab sebelumnya. Di pihak lain saudara tirinya, Subhi Azal, menolak klaim kepemimpinan Bahaullah, akibatnya terjadi konflik sengit antara keduanya. Karena dikhawatirkan menimbulkan gangguan terhadap stabilitas keamanan, pemerintah Turki mengusir kaum Bahais ke Akka dan kelompok Azalis ke Famagusta di Cyprus. Kemudisn Bahaullah pindah lagi ke Mazra'a dan di tempat ini dia menulis "Kitab Aqdas" (Kitab Paling Suci) yang berisi paham kepercayaannya. Dia kemudian pindah ke Bahji dan di kota ini dia meninggal dunia pada 29 Mei 1892.
Pasca kematian Bahaullah, mayoritas kaum Bahais mengakui Abbas Effendi (terkenal dengan nama Abdul Baha') sebagai penafsir sah ajaran ayahnya. Saudara laki-laki Abdul Baha', Muhammad Ali, menyainginya dengan membentuk kelompok tandingan dalam tubuh organisasi Baha'i, akan tetapi dia tidak memperoleh banyak pendukung. Abdul Baha' adalah anak laki-laki tertua Bahaullah yang setia mendampingi ayahnya selama dalam hidup pengasingan. Abdul Baha' melakukan perjalanan bersejarah dengan mengunjungi Mesir (1910), Paris dan London (1911), dan Amerika dan Eropa (dari 1912 – 1913). Ketika melawat ke Amerika Serikat, dia mengunjungi New York, Los Angeles dan San Fransisco serta kota-kota penting lainnya seraya memberikan khotbah di berbagai gereja, sinagog, dan tempat-tempat lainnya. Tujuan utama misinya adalah untuk melawan propaganda yang dilancarkan oleh para pendukung saudara laki-lakinya (Muhammad Ali), memperkuat eksistensi masyarakat Baha'i di Amerika dan membentuk kelompok-kelompok masyarakat Baha'i di negara-negara Eropa. Abdul Baha' dipandang sebagai penyebar ajaran Baha'i di Amerika Serikat dan Eropa.
Dari Babisme ke Bahaisme
Nama asli Bahaullah adalah Mirza Husain Ali, dilahirkan pada 12 Nopember 1817 di Teheran. Ketika Bab mendeklarasikan misinya pada 1844, Mirza Husain Ali sangat mendukung misi Bab. Tidak seperti kebanyakan pemberontak kaum Babis lainnya yang dijatuhi hukuman mati, Mirza Husain Ali dibebaskan oleh pemerintah Iran dengan syarat harus meninggalkan Iran. Pada 1853, Mirza Husain Ali meninggalkan Iran dan hidup dalam pengasingan di Baghdad bersama keluarganya. Syah Iran mendesak penguasa Turki untuk memerintahkan Mirza Husain Ali agar pindah lebih jauh dari perbatasan Iran. Dia pun pindah ke Konstantinopel lalu ke Edirne pada 1863.
Mirza Husain Ali mendeklarasikan dirinya sebagai Bahaullah (Sang Wajah Kebesaran Tuhan) yang menurut dia kedatangannya telah diramalkan oleh Bab sebelumnya. Di pihak lain saudara tirinya, Subhi Azal, menolak klaim kepemimpinan Bahaullah, akibatnya terjadi konflik sengit antara keduanya. Karena dikhawatirkan menimbulkan gangguan terhadap stabilitas keamanan, pemerintah Turki mengusir kaum Bahais ke Akka dan kelompok Azalis ke Famagusta di Cyprus. Kemudisn Bahaullah pindah lagi ke Mazra'a dan di tempat ini dia menulis "Kitab Aqdas" (Kitab Paling Suci) yang berisi paham kepercayaannya. Dia kemudian pindah ke Bahji dan di kota ini dia meninggal dunia pada 29 Mei 1892.
Pasca kematian Bahaullah, mayoritas kaum Bahais mengakui Abbas Effendi (terkenal dengan nama Abdul Baha') sebagai penafsir sah ajaran ayahnya. Saudara laki-laki Abdul Baha', Muhammad Ali, menyainginya dengan membentuk kelompok tandingan dalam tubuh organisasi Baha'i, akan tetapi dia tidak memperoleh banyak pendukung. Abdul Baha' adalah anak laki-laki tertua Bahaullah yang setia mendampingi ayahnya selama dalam hidup pengasingan. Abdul Baha' melakukan perjalanan bersejarah dengan mengunjungi Mesir (1910), Paris dan London (1911), dan Amerika dan Eropa (dari 1912 – 1913). Ketika melawat ke Amerika Serikat, dia mengunjungi New York, Los Angeles dan San Fransisco serta kota-kota penting lainnya seraya memberikan khotbah di berbagai gereja, sinagog, dan tempat-tempat lainnya. Tujuan utama misinya adalah untuk melawan propaganda yang dilancarkan oleh para pendukung saudara laki-lakinya (Muhammad Ali), memperkuat eksistensi masyarakat Baha'i di Amerika dan membentuk kelompok-kelompok masyarakat Baha'i di negara-negara Eropa. Abdul Baha' dipandang sebagai penyebar ajaran Baha'i di Amerika Serikat dan Eropa.
Lihat Juga :