Sensitivitas Retoris Elite

Selasa, 03 Agustus 2021 - 19:11 WIB
Coba bayangkan di saat situasi serbasulit, ada sejumlah pejabat dan politisi yang seharusnya berkomitmen mengayomi tetapi justru berkomunikasi yang tidak menunjukkan sesitivitas retorisnya. Contoh, beberapa waktu lalu ada politisi dan juga anggota DPR RI dari sebuah partai yang menyampaikan usulan agar pemerintah membuat rumah sakit khusus Covid-19 bagi para pejabat. Sontak pernyataan yang disampaikan Rabu (7/7/2021) tersebut memantik kekesalan publik dan membuat partai tempat politisi tersebut bernaung, harus meminta maaf secara terbuka. Komunikasi yang sembrono, dan tidak peka dengan kondisi yang sedang dialami banyak orang.

Belum usai polemik pernyataan tersebut, muncul lagi usulan tidak simpatik dari Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka berencana menyiapkan fasilitas hotel untuk isolasi mandiri atau isoman anggota DPR yang positif Covid-19. Meskipun penyediaan fasilitas isoman akan menggunakan dana dari anggaran perjalanan dinas luar negeri atau honor narasumber kegiatan yang tidak terpakai di masa pandemi, tetap saja hakikat uang yang digunakan tersebut adalah yang rakyat! Sementara rakyat sedang membutuhkannya. Lihat saja antrean pembelian oksigen, penuhnya rumah sakit, antrian pembelian obat di apotik dan lain-lain.

Di lain waktu, ada juga salah seorang pejabat yang menunjukkan ketidaksukaannya dikritik atas kekurangan pemerintah dalam penanganan Covid-19. Hal yang lumrah di era demokrasi terbuka, kritik menjadi masukan dan sekaligus bahan evaluasi untuk perbaikan kinerja. Pernyataan verbal agresif dari salah seorang menteri di kabinet Jokowi menunjukkan abainya dia dengan aspek ethos dan phatos dalam beretorika di hadapan warga yang lagi terluka. Dia berperhatian pada aspek logos yang berkaitan dengan penggunaan argumentasi dan fakta-fakta, tetapi aspek ethos kredibilitas komunikator dan pathos berkaitan yang dengan dimensi yang menyentuh emosi diabaikan. Sebagai representasi pemerintah, pernyataannya harus lebih bijak, mengayomi, memberi arahan, menumbuhkan keyakinan, jangan true claim bahwa pihaknya telah dapat mengendalikan keadaan.

Pandemi tak akan bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Oleh karenanya jangan menantang publik, justru harusnya merangkul bukan memukul, menciptkan harmoni bukan memaki.

Kekuatan Komunikasi

Pandemi global Covid-19 ini secara faktual melahirkan disonansi kognitif di kalangan masyarakat. Istilah disonansi kognitif ini dikenalkan oleh Leon Festinger dalam buku lawasnya A Theory of Cognitive Dissonance(1957). Festinger memaknainya sebagai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Salah satu yang bisa menyebabkan disonansi ialah inkonsistensi logis, yaitu logika berpikir yang mengingkari logika berfikir lain.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!