Pertimbangkan Tempuh Jalur Hukum Terhadap ICW, Moeldoko: Ini Menodai Kehormatan Saya

Kamis, 22 Juli 2021 - 20:26 WIB
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mempertimbangkan menempuh jalur hukum terhadap ICW. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko membantah temuan Indonesia Corruption Watch (ICW) yang menduga dirinya ingin mendapat keuntungan terkait penggunaan obat Ivermectin untuk menanggulangi Covid-19.

"Itu tuduhan ngawur dan menyesatkan," ujar Moeldoko melalui keterangan tertulis yang diterima, Kamis (22/7/2021).

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan pihak KSP, disebutkan bahwa ICW melalui sejumlah media menuduh putri bungsu Moeldoko, yakni Joanina Novinda Rachma, memiliki kedekatan dengan pihak PT Harsen yang merupakan produsen obat Ivermectin.

ICW menyebut Joanina punya hubungan bisnis dengan Sofia Koswara. Sofia berperan membantu PT Harsen dalam memperkenalkan Ivermectin ke publik. Moeldoko pun membantah tudingan yang dialamatkan kepada anaknya. "Tidak ada urusan dan kerja sama antara anak saya, Jo, dengan PT Harsen Lab,” tegas Moeldoko.

Terkait tuduhan kerja sama HKTI dalam impor beras, Moeldoko menyebut tuduhan ini tidak bisa dimaafkan. “Ini menodai kehormatan saya sebagai ketua HKTI,” ujar Moeldoko.



Moeldoko berujar HKTI justru berjuang untuk kemandirian petani agar mereka bisa mengekspor beras. Moeldoko juga menegaskan, informasi yang menyebut Joanina sebagai Tenaga Ahli di KSP, adalah salah besar.

Moeldoko mengaku sudah pernah menjelaskan bahwa Joanina hanya pernah magang selama tiga bulan di KSP. “Saya suruh dia belajar dari para tenaga ahli di KSP selama tiga bulan awal 2020,” tegas Moeldoko.

Atas berbagai tuduhan tersebut, Moeldoko mempertimbangkan melakukan langkah hukum terhadap ICW.

Seperti dikutip dari laman antikorupsi.org, ICW menemukan dugaan keterkaitan anggota partai politik, pejabat publik dan pebisnis dalam upaya mempromosikan Ivermectin sebagai obat penanggulangan Covid-19. ICW menduga hal ini dimanfaatkan segelintir pihak untuk meraup keuntungan di tengah krisis.
Dapatkan berita terbaru, follow WhatsApp Channel SINDOnews sekarang juga!
Halaman :
tulis komentar anda
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More