PPKM Darurat, Kemendikbud Diminta Siapkan Konsep Sekolah Aman
Senin, 12 Juli 2021 - 12:19 WIB
Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda. Dok SINDONEWS
JAKARTA – Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat memaksa rencana pembelajaran tatap muka (PTM) di Bulan Juli terhambat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Teknologi (Kemendikbud Ristek) pun diminta segera menyiapkan konsep sekolah aman bagi siswa setelah PPKM Darurat dicabut.
“Berdasarkan Survei Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menunjukkan mayoritas orang tua siswa setuju sekolah segera dibuka kembali. Oleh karena itu kami meminta selama PPKM Darurat ini Kemendikbud Ristek mematangkan sekolah sebagai zona aman bagi siswa. Sehingga setelah PPKM Darurat ini dicabut sekolah bisa kembali dibuka,” ujar Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, Senin (12/7/2021).
Dia menjelaskan keinginan mayoritas orang tua siswa agar sekolah segera dibuka seperti yang tercermin dalam survey P2G bisa dipahami. Menurutnya orang tua mempunyai beban ganda saat anak-anak mereka harus melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Mereka tidak hanya berjibaku memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyiapkan mental dan kapasitas untuk mendampingi anak mereka saat belajar dari rumah. “Situasi ini terkadang memunculkan tekanan psikologis yang merugikan bagi orang tua maupun anak. Ini di luar persoalan adanya learning loss, naiknya jumlah pekerja anak, hingga maraknya pernikahan dini,” ujarnya. (Baca Juga :Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di Makassar Diundur)
Huda menilai ditutupnya sekolah juga menjadi salah satu pemicu tingginya tingkat keterpaparan virus Covid-19 bagi anak-anak di Indonesia. Dia mengungkapkan Per 29 Juni 2021, ada 12,6% atau sekitar 250.000 kasus Covid-19 yang menyasar anak usia 0-18 tahun. Proporsi terbesar berada pada kelompok usia 7-12 tahun (28,02%), diikuti oleh kelompok usia 16-18 tahun (25,23%) dan 13-15 tahun (19,92%). Sedangkan tingkat kematian dari kasus tersebut mencapai 3-5%. “Banyak anak yang tidak terkontrol bermain di luar rumah saat sekolah ditutup. Akibatnya tingkat keterpaparan juga tinggi,” katanya. (Baca Juga :20 Ribu Pelajar SD-SMP di Surabaya Disuntik Vaksin COVID-19, Semakin Yakin Sekolah Tatap Muka)
“Berdasarkan Survei Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menunjukkan mayoritas orang tua siswa setuju sekolah segera dibuka kembali. Oleh karena itu kami meminta selama PPKM Darurat ini Kemendikbud Ristek mematangkan sekolah sebagai zona aman bagi siswa. Sehingga setelah PPKM Darurat ini dicabut sekolah bisa kembali dibuka,” ujar Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, Senin (12/7/2021).
Dia menjelaskan keinginan mayoritas orang tua siswa agar sekolah segera dibuka seperti yang tercermin dalam survey P2G bisa dipahami. Menurutnya orang tua mempunyai beban ganda saat anak-anak mereka harus melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Mereka tidak hanya berjibaku memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyiapkan mental dan kapasitas untuk mendampingi anak mereka saat belajar dari rumah. “Situasi ini terkadang memunculkan tekanan psikologis yang merugikan bagi orang tua maupun anak. Ini di luar persoalan adanya learning loss, naiknya jumlah pekerja anak, hingga maraknya pernikahan dini,” ujarnya. (Baca Juga :Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di Makassar Diundur)
Huda menilai ditutupnya sekolah juga menjadi salah satu pemicu tingginya tingkat keterpaparan virus Covid-19 bagi anak-anak di Indonesia. Dia mengungkapkan Per 29 Juni 2021, ada 12,6% atau sekitar 250.000 kasus Covid-19 yang menyasar anak usia 0-18 tahun. Proporsi terbesar berada pada kelompok usia 7-12 tahun (28,02%), diikuti oleh kelompok usia 16-18 tahun (25,23%) dan 13-15 tahun (19,92%). Sedangkan tingkat kematian dari kasus tersebut mencapai 3-5%. “Banyak anak yang tidak terkontrol bermain di luar rumah saat sekolah ditutup. Akibatnya tingkat keterpaparan juga tinggi,” katanya. (Baca Juga :20 Ribu Pelajar SD-SMP di Surabaya Disuntik Vaksin COVID-19, Semakin Yakin Sekolah Tatap Muka)
Lihat Juga :