BPKN: Sebagai Konsumen, Anak Berhak Sekolah Aman dan Selamat

Sabtu, 26 Juni 2021 - 12:25 WIB
Dia menambahkan, pembelajaran tatap muka menjadi pilihan karena banyaknya kelemahan pembelajaran online, seperti keterbatasan sarana pendukung peserta didik dan guru, terdampaknya perkembangan mental, sosial, dan karakter peserta didik dan terjadinya learning lost yang dihadapi peserta didik.

Sementara itu, hasil survei yang dirilis Lembaga Survei Kedai Kopi menyatakan, sebanyak 41% responden menyatakan setuju pelaksanaan PTM dan 59% menyatakan tidak setuju.

Survei yang dilakukan pada 15-23 Juni itu juga menunjukkan bahwa orang yang tinggal di zona Covid-19 dengan risiko rendah 43%-nya setuju PTM, sementara 57% tidak setuju dilakukan PTM. Adapun di zona risiko sedang sebanyak 38,4% setuju PTM dan 61,6% tidak setuju PTM. Sementara orang di zona risiko tinggi 41,9% setuju PTM dan 58,1% tidak setuju.

Baca juga: Positivity Rate Melonjak, KPAI Minta Hentikan Ujicoba PTM dan Tunda Buka Sekolah

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengungkapkan agar pemerintah fokus pada penyiapan berbagai skenario pembelajaran. Baik itu secara online, PTM ataupun hybrid. Infrastruktur dan kesiapan guru juga harus terus ditingkatkan jangan sampai anak putus belajar karena infrastruktur tidak tersedia sehingga berujung pada terjadinya lost generation.

“Harus ada kurikulum khusus yang dapat diimplementasikan serta penyediaan bahan ajar sampai di depan pintu sekolah. Semua guru dan tenaga kependidikan juga harus diselesaikan proses vaksinasinya,” katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!