Tahun Baru Islam, Menag: Momentum Pentingnya Dialog dan Merangkul Perbedaan
Selasa, 16 Juni 2026 - 06:32 WIB
loading...
Menyambut Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah, Menag Nasaruddin Umar mengajak masyarakat untuk menjadikannya sebagai titik balik memperkuat persatuan bangsa. Foto/Dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menyambut Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan pergantian tahun Hijriyah ini sebagai titik balik memperkuat persatuan bangsa. Esensi dari hijrah di era modern adalah membuka ruang dialog yang sehat dan konsisten merawat tali persaudaraan antar-sesama.
Menurut Menag, tantangan zaman yang semakin kompleks, termasuk derasnya arus informasi di media sosial, sering kali memicu kesalahpahaman dan polarisasi. Oleh karena itu, semangat hijrah harus dimaknai sebagai perpindahan dari ego sektoral menuju kebersamaan.
Baca juga: Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
"Hijrah bukan sekadar perpindahan kalender atau mengenang peristiwa historis masa lalu. Di era sekarang, hijrah yang paling kontekstual adalah berhijrah dari watak merasa benar sendiri menuju watak yang mau mendengar, berdialog, dan merangkul perbedaan," ujar Menag dalam keterangannya, dikutip Selasa (16/6/2026).
Dalam pesannya, Nasaruddin Umar menggarisbawahi pentingnya merawat tiga pilar persaudaraan yang menjadi fondasi kedamaian di Indonesia, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariah
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini meyakini, jika ketiga pilar ini dijaga melalui dialog yang santun dan terbuka, potensi perpecahan di tengah masyarakat dapat diredam sedini mungkin.
Menurut Menag, tantangan zaman yang semakin kompleks, termasuk derasnya arus informasi di media sosial, sering kali memicu kesalahpahaman dan polarisasi. Oleh karena itu, semangat hijrah harus dimaknai sebagai perpindahan dari ego sektoral menuju kebersamaan.
Baca juga: Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
"Hijrah bukan sekadar perpindahan kalender atau mengenang peristiwa historis masa lalu. Di era sekarang, hijrah yang paling kontekstual adalah berhijrah dari watak merasa benar sendiri menuju watak yang mau mendengar, berdialog, dan merangkul perbedaan," ujar Menag dalam keterangannya, dikutip Selasa (16/6/2026).
Dalam pesannya, Nasaruddin Umar menggarisbawahi pentingnya merawat tiga pilar persaudaraan yang menjadi fondasi kedamaian di Indonesia, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariah
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini meyakini, jika ketiga pilar ini dijaga melalui dialog yang santun dan terbuka, potensi perpecahan di tengah masyarakat dapat diredam sedini mungkin.
Lihat Juga :