McDonald’s sebagai Magnet Kapitalisme
Jum'at, 11 Juni 2021 - 06:35 WIB
Di era ini, dunia menjadi homogen. Sebab tanpa tantangan ideologi lain, Amerika lebih leluasa memasarkan ide demokrasi ke seluruh penjuru dunia. Dunia, dengan demikian, berada di dalam selimut demokrasi dan ini diyakini bisa memberikan implikasi bagi perdamaian global. Ilmuwan hubungan internasional biasa menyebut gagasan Fukuyama ini sebagai teori perdamaian demokrasi. Teori ini menjelaskan bahwa negara-negara demokrasi tidak akan berperang satu sama lain.
Namun tesis Fukuyama tentang teori perdamaian demokrasi ini dinilai sejumlah pemikir hubungan internasional belumlah memuaskan. Sebab masih ada bukti yang menunjukkan sesama negara demokrasi berkonflik satu sama lain. Untuk itu penulis hubungan internasional dan jurnalis top asal Amerika Thomas L Friedman, misalnya, berupaya untuk menutupi kelemahan teori tersebut dengan gagasannya yang dia sebut sebagai The Golden Aches Theory sebagai upaya pencegahan konflik.
Teori itu dia gambarkan secara ringkas di dalam artikelnya yang berjudul Foreign Affairs Big Mac I (New York Times , 1996). Dalam artikel itu Friedman intinya mengatakan, "Belum pernah ada dua negara yang berperang melawan satu sama lain sejak McDonald’s masuk ke kedua negara tersebut." Teori ciptaan Friedman itu didasari asumsi bahwa ketika sebuah negara mencapai pembangunan ekonomi dengan jumlah kelas menengah yang cukup besar untuk dimanfaatkan McDonald’s, negara tersebut akan menjadi "negara McDonald’s" dan dengan begitu enggan terlibat dalam perang.
Tiga tahun kemudian Friedman tetap mempertahankan teori tersebut di dalam bukunya yang berjudul The Lexus and the Olive Tree: Understanding Globalization (1999). Namun tidak lama setelah buku ini diterbitkan, NATO mengebom Yugoslavia. Pada hari pertama pengeboman, restoran-restoran McDonald’s di Belgrade dihancurkan oleh para pengunjuk rasa. Tapi bagi Friedman, situasi konflik itu yang membuat teorinya menjadi lebih valid: perang berakhir cepat dan salah satu alasannya adalah penduduk Serbia tidak ingin kehilangan tempatnya di dalam tatanan dunia yang ter-McDonaldisasi.
Keyakinan Friedman itu didasari faktor globalisasi (ekonomi) dan bukanlah politik. Menurutnya negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi secara erat akan merugi jika memutuskan berperang satu sama lain. Ekspansi global McDonald’s merupakan fenomena modern bila disandingkan dengan sejarah perang. Meski ada beberapa pengecualian, McDonald’s selalu masuk ke negara-negara yang ekonominya stabil.
Mungkin ini yang membuat restoran McDonald’s memiliki daya tarik tersendiri. Saking berdaya tarik, McDonald’s kemudian dijadikan sebagai perangkat teoretis ilmu sosial untuk menjelaskan perdamaian antarnegara yang membuka gerai McDonald’s (perdamaian McDonald’s).
Perdamaian McDonald’s
Meski teori perdamaian McDonald’s memiliki daya narik, beberapa fakta menunjukkan realitas yang bertabrakan. Sejak 2006 setidaknya terdapat tiga contoh kasus yang disebut sebagai konflik antarsesama negara McDonald’s.
Namun tesis Fukuyama tentang teori perdamaian demokrasi ini dinilai sejumlah pemikir hubungan internasional belumlah memuaskan. Sebab masih ada bukti yang menunjukkan sesama negara demokrasi berkonflik satu sama lain. Untuk itu penulis hubungan internasional dan jurnalis top asal Amerika Thomas L Friedman, misalnya, berupaya untuk menutupi kelemahan teori tersebut dengan gagasannya yang dia sebut sebagai The Golden Aches Theory sebagai upaya pencegahan konflik.
Teori itu dia gambarkan secara ringkas di dalam artikelnya yang berjudul Foreign Affairs Big Mac I (New York Times , 1996). Dalam artikel itu Friedman intinya mengatakan, "Belum pernah ada dua negara yang berperang melawan satu sama lain sejak McDonald’s masuk ke kedua negara tersebut." Teori ciptaan Friedman itu didasari asumsi bahwa ketika sebuah negara mencapai pembangunan ekonomi dengan jumlah kelas menengah yang cukup besar untuk dimanfaatkan McDonald’s, negara tersebut akan menjadi "negara McDonald’s" dan dengan begitu enggan terlibat dalam perang.
Tiga tahun kemudian Friedman tetap mempertahankan teori tersebut di dalam bukunya yang berjudul The Lexus and the Olive Tree: Understanding Globalization (1999). Namun tidak lama setelah buku ini diterbitkan, NATO mengebom Yugoslavia. Pada hari pertama pengeboman, restoran-restoran McDonald’s di Belgrade dihancurkan oleh para pengunjuk rasa. Tapi bagi Friedman, situasi konflik itu yang membuat teorinya menjadi lebih valid: perang berakhir cepat dan salah satu alasannya adalah penduduk Serbia tidak ingin kehilangan tempatnya di dalam tatanan dunia yang ter-McDonaldisasi.
Keyakinan Friedman itu didasari faktor globalisasi (ekonomi) dan bukanlah politik. Menurutnya negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi secara erat akan merugi jika memutuskan berperang satu sama lain. Ekspansi global McDonald’s merupakan fenomena modern bila disandingkan dengan sejarah perang. Meski ada beberapa pengecualian, McDonald’s selalu masuk ke negara-negara yang ekonominya stabil.
Mungkin ini yang membuat restoran McDonald’s memiliki daya tarik tersendiri. Saking berdaya tarik, McDonald’s kemudian dijadikan sebagai perangkat teoretis ilmu sosial untuk menjelaskan perdamaian antarnegara yang membuka gerai McDonald’s (perdamaian McDonald’s).
Perdamaian McDonald’s
Meski teori perdamaian McDonald’s memiliki daya narik, beberapa fakta menunjukkan realitas yang bertabrakan. Sejak 2006 setidaknya terdapat tiga contoh kasus yang disebut sebagai konflik antarsesama negara McDonald’s.
Lihat Juga :