Komnas Anak: Pilihlah Produk Kemasan Plastik Berizin BPOM
Kamis, 10 Juni 2021 - 10:51 WIB
"Saya tidak menyebutkan produknya apa, tetapi saya lihat nyata ada plastik dipakai oleh ibu-ibu yang menengah bawah. Oleh karena itu Komnas Perlindungan Anak mengingatkannya," ucapnya.
Karena beberapa zat itu berbahaya bagi bayi, balita, bahkan janin, Arist juga mengingatkan, tugas BPOM yang bukan sekedar mengawasi makanan, tetapi juga kemasan. Dia mengatakan, BPOM jangan hanya fokus mengawasi konten atau isinya saja apakah kedaluarsa atau tidak, tapi harus mengawasi kemasannya.
Baca juga: Ekonomi Sirkular, Solusi Tepat Atasi Masalah Sampah Plastik!
"Jangan lupa, kemasan itu kalau di Eropa kalau beli susu atau beli apapun, kalau sudah penyok tidak boleh dijual. Tapi di Indonesia, karena pemahaman ibu-ibu yang menengah ke bawah masih kurang soal itu, mereka tetap menggunakannya," kata Arist.
Karenanya, dia mengatakan bahwa produk-produk yang terbuat dari plastik itu harus betul-betul diwaspadai. Sebab, plastik yang belum ada izin edarnya itu berbahaya bagi bayi, balita, dan janin.
"Karenanya, saya mengimbau kepada seluruh ibu di seluruh nusantara untuk tidak lagi menggunakan produk-produk plastik ini dengan sembarangan. Sendok saja, kalau mau minum obat memakai plastik. Zaman saya pakai stainless. Sekarang serba plastik, coba lihat di dapur ibu, kalau menengah bawah pakai plastik, kalau menengah atas ada plastik," kata Arist kepada ibu-ibu kader yang hadir saat itu.
Sebelumnya, muncul berita-berita hoaks yang sengaja disebarkan perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) mengenai bahaya BPA galon guna ulang. Terkait berita-berita yang tidak benar soal Bisfenol A (BPA) pada kemasan galon AMDK, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan pernyataan resminya kepada publik. Hal itu dilakukan untuk memastikan kepada masyarakat bahwa air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang yang beredar hingga kini aman untuk dikonsumsi.
Karena beberapa zat itu berbahaya bagi bayi, balita, bahkan janin, Arist juga mengingatkan, tugas BPOM yang bukan sekedar mengawasi makanan, tetapi juga kemasan. Dia mengatakan, BPOM jangan hanya fokus mengawasi konten atau isinya saja apakah kedaluarsa atau tidak, tapi harus mengawasi kemasannya.
Baca juga: Ekonomi Sirkular, Solusi Tepat Atasi Masalah Sampah Plastik!
"Jangan lupa, kemasan itu kalau di Eropa kalau beli susu atau beli apapun, kalau sudah penyok tidak boleh dijual. Tapi di Indonesia, karena pemahaman ibu-ibu yang menengah ke bawah masih kurang soal itu, mereka tetap menggunakannya," kata Arist.
Karenanya, dia mengatakan bahwa produk-produk yang terbuat dari plastik itu harus betul-betul diwaspadai. Sebab, plastik yang belum ada izin edarnya itu berbahaya bagi bayi, balita, dan janin.
"Karenanya, saya mengimbau kepada seluruh ibu di seluruh nusantara untuk tidak lagi menggunakan produk-produk plastik ini dengan sembarangan. Sendok saja, kalau mau minum obat memakai plastik. Zaman saya pakai stainless. Sekarang serba plastik, coba lihat di dapur ibu, kalau menengah bawah pakai plastik, kalau menengah atas ada plastik," kata Arist kepada ibu-ibu kader yang hadir saat itu.
Sebelumnya, muncul berita-berita hoaks yang sengaja disebarkan perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) mengenai bahaya BPA galon guna ulang. Terkait berita-berita yang tidak benar soal Bisfenol A (BPA) pada kemasan galon AMDK, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan pernyataan resminya kepada publik. Hal itu dilakukan untuk memastikan kepada masyarakat bahwa air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang yang beredar hingga kini aman untuk dikonsumsi.
Lihat Juga :