Haji di Era Pandemi, Tak Mudah !

Sabtu, 05 Juni 2021 - 08:30 WIB
Bahkan ibadah umrah sunnah yang biasanya dapat dilakukan berkali-kali, saat pandemi ini juga dibatasi oleh pemerintah Saudi. Belum lagi soal beberapa kali tes swab PCR dan isolasi yang pasti mengurangi durasi dan intensitas amalan ibadah. Masa penantian hasil PCR juga akan berdampak pada psikologi jamaah. Kendati secara fikih itu semua tidak merusak sahnya haji, tapi kenyamanan pikiran dan hati jemaah pasti akan terciderai, dan kemungkinan kualitas hajinya pun terkurangi. Intinya, jika jemaah jadi berangkat tahun ini, maka akan banyak mendapat paket “diskon”, dan itu pasti menimbulkan persoalan tersendiri.

Ketiga, secara teknik, penyelenggaraaan ibadah haji juga harus dipersiapan secara matang. Persiapan-persiapan dalam negeri tentu sudah dilakukan dengan sangat baik, matang dan terukur. Hanya saja persoalan yang terkait dengan Arab Saudi seperti penyiapan logistik, transportasi, akomodasi, kesehatan dan sejenisnya yang belum dapat dilakukan karena Arab Saudi sampai keputusan kemaren diumumkan belum mengundang Indonesia untuk tandatangan notakepahaman.

Padahal penyiapan hal-hal teknis tersebut membutuhkan waktu berbulan-bulan. Karena ada proses suvey, negosiasi, kalkulasi dan perhitungan yang teliti. Dan semua itu harus dilakukan dengan orang Arab Saudi, yang secara kultur tentu sangat berbeda dengan orang Indonesia. Ini persoalan yang tidak mudah, terlebih di masa pandemi yang mengharuskan penerapan protokol kesehatan ketat. Dalam jangka waktu yang sangat mepet, hampir mustahil panitia dapat melakukan persiapan-persiapan tersebut. Maka pembatalan pemberangkatan jamaah haji tahun ini sangat logis dan solutif.

Keempat, secara teologis, umat Islam juga meyakini bahwa peristiwa pandemi covid-19 ini adalah takdir. Menghindar dari bahaya covid-19 untuk menjaga keselamtan jiwa juga takdir. Agama menganjurkan memilih takdir yang satu atas takdir yang lain jika ada pertimbangan kemaslahatan yang lebih besar. Dulu, saat Umar bin Khattab memutuskan untuk tidak jadi berangkat ke Syam karena di sana sedang dilanda wabah Tha'un, Abu Ubaidah pun menyergahnya: “Apakah Anda hendak melarikan diri dari takdir Allah?” Umar lantas menjawab:

نعم، نَفرّ من قدَر الله إلى قدَر الله.

"Ya, kita melarikan diri dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain."

Pembatalan keberangkatan jemaah haji tahun ini adalah pilihan rasional dan terbaik, demi kemaslahatan dan keselamatan jiwa jemaah. Karena itu, tak ada pilihan lain bagi calon jemaah dan kita semua kecuali bersabar, bertawakkal dan berdoa agar pandemi ini segera berlalu, sehingga tahun depan dapat menunaikan ibadah haji dengan khusyu’, nyaman dan mabrur. Amin.
(war)
Halaman :
tulis komentar anda
Follow
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More