Puasa, Sedekah, THR, dan Pemulihan Ekonomi

Senin, 03 Mei 2021 - 06:18 WIB
Di negara berkembang termasuk Indonesia, kesenjangan memang masih menjadi salah satu permasalahan, terlebih di masa pandemi seperti saat ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk kaya dan miskin Indonesia yang diukur olehgini ratiomencapai 0,385 pada September 2020. Angka tersebut meningkat 0,005 poin dibandingkan dengangini ratioSeptember 2019 yang sebesar 0,380.Gini ratiodi daerah perkotaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,399. Angka tersebut meningkat dibandinggini ratioMaret 2020 sebesar 0,393 dangini ratioSeptember 2019 sebesar 0,391. Sementara itu,gini ratiodi daerah perdesaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,319. Catatan tersebut juga meningkat dibandinggini ratioMaret 2020 sebesar 0,317 dangini ratioSeptember 2019 sebesar 0,315. Oleh sebab itu, sangat elok jika masyarakat dapat bahu membahu untuk saling membantu melalui zakat, infak, dan sedekah di bulan penuh berkah ini. Sesungguhnya Allah SWT akan selalu menolong seseorang selama orang itu mau membantu saudaranya yang lain.

Konsumsi di Bulan Ramadan

Konsumsi rumah tangga menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional mengingat kontribusinya mencapai 58% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa jika konsumsi rumah tangga mengalami pelemahan, maka pertumbuhan ekonomi juga akan melambat. Kini pemerintah sedang bekerja keras untuk terus mendorong konsumsi rumah tangga akan dapat segera pulih dari keterpurukan. Menteri Keuangan memprediksi bahwa konsumsi rumah tangga terus menguat seiring dengan digulirkannya berbagai program pemulihan ekonomi. Pemerintah mencatatkan laju sektorkonsumsi rumah tanggamengalami kenaikan sebesar 93,4 pada Maret 2021. Angka ini bergerak dari posisi Januari dan Februari 2021 masing-masing 84,9 dan 85,8. Selain itu, data menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2021 menguat, terealisasi sebesar 93,4, dan merupakan yang tertinggi sejak Desember 2020. Aktivitas konsumsi masyarakat juga menunjukkan perbaikan, dan diperkirakan akan terus menguat pada Kuartal II – 2021, terutama konsumsi makanan dan minuman, informasi dan transportasi, pakaian, serta perlengkapan rumah tangga dan rekreasi.

Pada bulan Ramadan, pengeluaran rumah tangga masyarakat cenderung mengalami peningkatan. Hal itu menjadi anomali ketika umat Islam berpuasa, membatasi diri, serta mengatur atau mengurangi makan dan minumnya sehingga permintaan konsumsi bahan pangan akan menurun, tetapi kenyataannya justru pada bulan Ramadan permintaan kebutuhan konsumsi masyarakat meningkat.Hasil kajian Febriyanto dkk (2019) menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi rumah tangga meningkat antara 10-30% hingga 100-150% selama bulan puasa. Uniknya, hal itu juga terjadi di sektor lain seperti sektor pertanian, peternakan, konveksi pakaian, kerajinan tangan, dan bahan bangunan juga terjadi peningkatan pembelian di bulan Ramadan.

Peningkatan konsumsi masyarakat di bulan Ramadan dapat dimanfaatkan sebagai momentum Ramadan pemicu paling positif dalam mendorong aktivitas ekonomi. Bahkan, momen ini punya andil penting mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat. Makanan, sandang, dan jasa (transportasi dan pembayaran) adalah komoditas dan sektor paling banyak disasar oleh masyarakat. Pada momen ini pemulihan perlu terus didorong dengan tetap menjaga pengendalian pandemi Covid-19.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!