Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam

Jum'at, 16 April 2021 - 10:22 WIB
Etiopia menganggap perjanjian perjanjian pra kolonial tersebut tidak adil. Hampir 85% air Sungai Nil yang bermuara ke Mesir dipasok dari sungai-sungai negara Etiopia. Setelah tertunda puluhan tahun, pada tahun 2011 Ethiopia membangun waduk raksasa di Sungai Nil biru untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA- hydropower), dengan total kapasitas listrik terpasang 6,45 gigawatt.

Proyek Bendungan dan Pembangkit Listrik yang diberi nama Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) berbiaya USD5 miliar. Mengantisipasi perlawanan dan lobi lobi Mesir yang kemungkinan termasuk menghalangi sumber pendanaan, sejak awal proyek ini dirancang menggunakan pinjaman pemerintah. Sebesar 65% menggunakan obligasi internasional, sisanya diperoleh dengan skema pembiayaan dari RRC.

Kontraktor utama bendungan raksasa yang berlokasi di pebukitan sekitar 45 km di perbatasan Timur Sudan ini adalah perusahaan Italia–Salini Impregilo. Sistem pemipaan kelistrikannya dipercayakan kepada perusahaan Italia lainnya Tratos Cavi SPA, turbinnya menggunakan teknologi Francis turbine. Seluruh konstruksi beton yang menghabiskan 10 juta meter kubik semen menggunakan bahan bahan lokal.

Bendungan raksasa ini dapat dikerjakan tepat waktu, sekalipun pada tahun 2018 Project Manajernya bernama Smignew Bekele–Insinyur Sipil Etiopia terbunuh misterius. Saat ini konstruksi telah selesai. Waduknya dapat menampung 74 miliar kubik air. Waduk diiisi bertahap selama lebih kurang 5 tahun untuk menggerakkan 16 turbin yang ada. Ini dilakukan dengan mempertimbangkan musim penghujan, juga untuk menjaga debit air Sungai Nil, serta mencari pasar untuk ekspor listrik. Pada saat beroperasi penuh Proyek GERD akan menjadi PLTA terbesar di Afrika dan ketujuh terbesar di dunia.

Visi Pemerintah Etiopia jelas. Sumber daya alam harus digunakan secara optimal untuk membangkitkan ekonomi negeri. Pertumbuhan ekonomi Etiopia termasuk yang tertinggi di Afrika, di atas 10% sebelum bencana wabah COVID-19. Negara itu bertekad menjadi hubungan/penghubung untuk industri alat-alat listrik di Afrika. Selain untuk memenuhi kebutuhan energi bersih dalam negeri, listrik yang dihasilkan akan diekspor melalui jalur transmisi ke negara negara tetangga seperti Sudan dan Kenya.

Saat ini sedang terjadi ketegangan di kawasan. Ini dipicu oleh pengisian waduk raksasa GERD oleh Ethiopia beberapa waktu yang lalu. Mesir sejak awal menentang pembangunan waduk itu. Perundingan segitiga antara Mesir–Sudan–Ethiopia hampir buntu. Mesir mengeskalasi dengan mencoba melibatkan PBB, Uni Eropa, Uni Afrika dan Amerika Serikat. Bahkan Presiden El-Sisi pun bertelepon langsung ke Donald Trump waktu itu untuk mengintervensi. Sudan sebetulnya lebih memilih win-win solution, tidak seperti Mesir yang kebakaran jenggot. Lebay.

El Sisi tahu betul sejarah bahwa menyangkut Sungai Nil tidak boleh ada kompromi. Itu adalah bagian integral isu keamanan nasional. Jatuhnya Presiden Mursi satu dekade lalu yang kemudian digantikan oleh El Sisi yang mantan Panglima Angkatan Bersenjata Mesir, antara lain adalah karena Mursi dianggap berkompromi dengan Ethiopia hal waduk ini.

Untuk menaikkan tekanan, Mesir dan Sudan baru baru ini melakukan latihan bersama yang melibatkan skuadron pesawat tempur utama. Satuan komando dan pesawat tempur Mesir pun saat ini pun ditempatkan di sana menunggu perintah atau entah sekadar mengintimidasi. Belum lagi satuan intelijennya yang bergerilya di Ethiopia. Untuk mencegah eskalasi yang mengarah perang, Rusia buru-buru menawarkan diri sebagai mediator.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!