Penyiaran Program Ramadan

Jum'at, 09 April 2021 - 04:30 WIB
Data dari lembaga riset Nielsen yang dirilis Selasa (13/5/2020) menyebutkan bahwa sejak implementasi work from home (WFH) dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), jumlah pemirsa TV meningkat dengan rata-rata 12% lebih tinggi dari periode normal. Jumlah penonton di segmen kelas atas telah meningkat sebesar 14% dengan durasi menonton TV juga meningkat menjadi 5 jam 46 menit. Di bulan Ramadan tahun 1441 H/2020 M, penonton TV menunjukkan tren meningkat lebih tinggi. Jumlah pemirsa mencapai empat kali lebih banyak atau tumbuh 372%, terutama dari waktu sahur hingga pagi hari, yakni antara pukul 02.00 hingga 05.59 WIB.

Dari data tahun lalu tersebut tampak jelas bahwa era pandemi Covid-19 yang membuat orang banyak bekerja dari rumah sekaligus momentum puasa Ramadan membuat televisi menjadi media yang diakses secara intens oleh masyarakat di luar media sosial. Berbagai tayangan informasi seperti berita hingga program hiburan seperti sinetron, reality show, dan lain-lain menjadi menu yang selalu dihidangkan. Tak jarang dalam praktiknya media penyiaran kerap mengalami dilema peran, antara menghadirkan program siaran berkualitas dan sesuai ketentuan atau terjebak pada sekadar logika ekonomi kumulasi keuntungan.

Media penyiaran televisi sebagai industri padat modal tentu harus piawai mengayuh di tengah derasnya tiga kepentingan. Pertama, menyangkut kebutuhan pelanggan (customer requirements). Formula lama di pasar komersial adalah permintaan dan pasokan (demand-supply). Semakin tinggi permintaan, semakin mahal barang. Media kerap menyandarkan argumennya pada selera pasar bahwa membuat program apa pun menjadi sah, selama pasarnya ada dan menerima. Logika instrumentalistik inilah yang kerap membuat media terjerembab pada kubangan kepentingan pragmatis pasar. Dalam hal ini, penulis setuju dengan catatan kritis Pamella J Shoemaker dan Stephen D Reese dalam bukunya Mediating the Message: Theories of Influence on Mass Media Content, (1991), bahwa organisasi media merupakan entitas ekonomi. Sebagai capitalist venture, media penyiaran beroperasi dalam sebuah struktur industri kapitalis.

Kedua, lingkungan kompetitif (competitive environment). Struktur pasar industri media penyiaran di Indonesia saat ini kalau merujuk ke tulisannya Robert G Pickard, Media Economics: Concepts and Issues (1989), masuk ke tipologi oligopoli di mana para penjualnya hanya sedikit. Bukan berarti jumlah medianya sedikit, tetapi media-media bersangkutan mengalami konsentrasi kepemilikan pada beberapa grup besar. Hal ini menyebabkan media dituntut untuk kompetitif di tengah persaingan grup-grup media yang ada terutama dalam memanfaatkan momentum, termasuk tayangan selama Ramadan.

Ketiga, harapan masyarakat (social expectation). Bagaimanapun, media tidak tumbuh di ruang hampa. Meskipun kerap kali penonton itu menjadi mayoritas diam, sesungguhnya mereka memiliki harapan tentang seperti apa seharusnya isi siaran diselenggarakan. Reaksi publik bisa tenang menerima, tetapi juga bisa tiba-tiba memunculkan ledakan jika media dianggap mencederai harapan mereka. Di tengah ketiga faktor itulah media berada. Fungsi media sebagai penyebar informasi dan pendidikan, kontrol sosial, serta hiburan harus dioptimalkan secara tepat guna dan berdaya guna.

Dimmick dan Rothenbuhler dalam bukunya The Theory of the Niche: Quantifying Among Media Industries (1984) dalam hal ini mengatakan, ada tiga sumber kehidupan bagi media, yakni content, capital, dan audiences. Dengan konten menarik, audiensi akan tetap memilih stasiun TV tertentu sebagai pilihannya. Kian banyak audiensi yang menonton suatu program maka kian tinggi pula rating program tersebut. Akibat lebih lanjut, tentu saja para pengiklan akan semakin berminat memasang iklan pada program yang bersangkutan. Tapi, benarkah hanya itu? Tentu saja tidak. Media juga harus berpegang teguh pada peran tanggung jawab sosialnya untuk turut mewariskan nilai-nilai baik lintas generasi, menjadi media yang berkontribusi pada penguatan peradaban serta menjaga suasana kondusif di tengah gempuran informasi tak mendidik yang membeludak di berbagai kanal perbincangan warga seperti di media sosial.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!