GeNose Jadi Syarat Perjalanan Mulai 1 April, Epidemiolog: Terburu-buru dan Berbahaya

Rabu, 31 Maret 2021 - 08:24 WIB
"Akurasi deteksi lebih dari 90% itu, itu yang berbasis di-setting rumah sakit ya, di-setting rumah sakit. Tapi kalau di populasi itu belum ada datanya, di populasi umum," tegasnya.

Jadi, kata Dicky, lebih tepat kalau mau diuji gunakan ya di-setting yang sama yaitu di rumah sakit atau fasilitas kesehatan. "Karena memang mesinnya, mesin pintarnya dilatih itu dengan setting rumah sakit dari awal. Kemudian divalidasi juga sama, sehingga kalau tiba-tiba diperuntukkan untuk populasi umum, itu yang salah kaprah menurut saya, salah kaprah. Dan berbahaya," papar Dicky.

Baca juga: Mulai Hari ini, Stasiun Pekalongan Layani Pemeriksaan GeNose COVID-19

Apalagi, kata Dicky, hingga saat ini belum ada data riset GeNose untuk mendeteksi orang yang tidak bergejala Covid-19. "Apalagi mendeteksi orang tidak bergejala, orang berisiko rendah, itu belum ada datanya. Jadi berbeda ya setting pada fase 1, 2-nya itu berbeda dengan peruntukannya. Ini yang nggak bisa disamakan," katanya.

Bahkan, GeNose juga masih dalam proses riset. Sehingga, kata Dicky, bisa berpotensi false negatif ketika GeNose ini digunakan. "Jadi, masih ada proses yang harus dilakukan untuk itu (riset). Terutama karena ada bias seleksi partisipan, di fase 1 nya, termasuk fase 2-nya. Jadi ini akan berpotensi terjadinya false negatif, akan sangat berpotensi," jelasnya.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!