Kisruh Demokrat Memanas, Kubu Moeldoko Beberkan Pelanggaran Etika SBY
Jum'at, 19 Maret 2021 - 07:56 WIB
Masih soal pakta integritas, Rahmad menyatakan, saat itu SBY berjanji akan mengakomodir kelompok Anas Urbaningrum di dalam kepengurusan partai, tapi nyatanya, janji tersebut tak pernah dibuktikan, hingga satu per satu kader yang telah membesarkan partai pergi meninggalkan partai. "SBY bujuk Anas dukung KLB, dukung SBY jadi ketua umum dan dijanjikan orang Anas masuk pengurus. Faktanya orang Anas dibuang SBY," bebernya.
Contoh berikutnya, tepatnya di 2015 silam, SBY berjanji tidak ingin maju sebagai ketua umum Partai Demokrat. Namun nyatanya dia malah menutup ruang kompetisi sehingga tidak ada calon yang maju sebagai ketua umum. "Faktanya di KLB Surabaya maju sebagai ketua umum dan menutup ruang kompetisi. Katanya demokratis tapi takut kompetisi," ungkapnya.
Kemudian di 2020 lalu, SBY menyebut Demokrat harus menjadi partai modern dan demokratis. Namun faktanya kongres 2020 tanpa laporan pertanggung jawaban SBY sebagai ketua umum. "Pemilihan AHY sebagai Ketum tanpa pembahasan tata tertib, AD/ART dibuat di luar Kongres, SBY diam-diam jadi pendiri partai, SBY diam-diam jadi penguasa tunggal, peserta kongres yang punya hak bicara disuruh keluar ruangan sidang. Di mana etika politiknya?," pungkasnya.
Contoh berikutnya, tepatnya di 2015 silam, SBY berjanji tidak ingin maju sebagai ketua umum Partai Demokrat. Namun nyatanya dia malah menutup ruang kompetisi sehingga tidak ada calon yang maju sebagai ketua umum. "Faktanya di KLB Surabaya maju sebagai ketua umum dan menutup ruang kompetisi. Katanya demokratis tapi takut kompetisi," ungkapnya.
Kemudian di 2020 lalu, SBY menyebut Demokrat harus menjadi partai modern dan demokratis. Namun faktanya kongres 2020 tanpa laporan pertanggung jawaban SBY sebagai ketua umum. "Pemilihan AHY sebagai Ketum tanpa pembahasan tata tertib, AD/ART dibuat di luar Kongres, SBY diam-diam jadi pendiri partai, SBY diam-diam jadi penguasa tunggal, peserta kongres yang punya hak bicara disuruh keluar ruangan sidang. Di mana etika politiknya?," pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :