Butuh Banyak Aksi Nyata untuk Atasi Bencana
Selasa, 23 Februari 2021 - 06:14 WIB
Selain di Jabodetabek dan Jabar, banjir pada Januari hingga Februari juga menjadi pekerjaan besar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Awal bulan ini sejumlah kabupaten dan kota di provinsi ini telah dilanda banjir besar yang membuat sejumlah jalur transportasi, bisnis, dan aktivitas masyarakat terganggu. Di Kota Pekalongan bahkan sejumlah rumah masih terendam hampir sebulan lamanya. Miris dan prihatin kita melihatnya.
Lantas, sampai kapan masalah ini terus terjadi dan seolah menjadi agenda tahunan yang tak berhenti? Sampai kapan pula masyarakat harus dirugikan? Sudah waktunya pemerintah tidak bisa tinggal diam dengan hanya mengumbar jargon-jargon penanganan atau minim realisasi.
Semua tentu memahami bahwa persoalan bencana banjir ini begitu kompleks. Dengan bekal kesadaran itu, maka menempatkan faktor cuaca sebagai pemicu utama banjir atau longsor tentu bukanlah langkah bijak. Di luar cuaca, ada banyak faktor lain yang tak kalah utama seperti sejauh mana kesiapan daerah aliran sungai (DAS), kawasan resapan, waduk, situ, pompa air, tanggul, kesiagaan petugas, hingga kesadaran warga. Sudahkan faktor-faktor itu dikelola dengan baik dan matang? Tentu pertanyaan-pertanyaan itu patut dijawab dengan komprehensif oleh para pemangku kepentingan.
Sah-sah saja misalnya seorang kepala daerah berdalih telah melakukan persiapan atau simulasi untuk mengatasi banjir. Namun, faktanya, kesiapan yang mereka lakukan tak banyak berarti. Di tengah era keterbukaan, sudah saatnya para pemimpin termasuk kepala daerah untuk mengurangi membuat narasi-narasi dan janji. Sebaliknya, mereka harus memperbanyak aksi nyata. Tanpa narasi yang harus dipoles sana-sana pun, publik hakikatnya telah menyadari mana pemimpin yang serius bekerja dan berpihak ke rakyat dan mana yang hanya kamuflase untuk menebar simpati. Jika ada pemimpin yang masih sibuk membangun citra diri, namun minim aksi, sudah saatnya mereka mengeja ulang gaya kepemimpinan dan arah program kerjanya. Jangan habiskan atau ajak energi rakyat untuk turut larut dalam pergumulan narasi kurang berfaedah itu.
Tidak elok tentunya di tengah bencana, para pemimpin masih beralibi sana sini tanpa berani mengevaluasi diri sendiri. Jangan pula memanfaatkan bencana ini untuk kepentingan politis praktis seperti dengan menyerang sana-sini tanpa diimbangi kritik konstruktif.
Lantas, sampai kapan masalah ini terus terjadi dan seolah menjadi agenda tahunan yang tak berhenti? Sampai kapan pula masyarakat harus dirugikan? Sudah waktunya pemerintah tidak bisa tinggal diam dengan hanya mengumbar jargon-jargon penanganan atau minim realisasi.
Semua tentu memahami bahwa persoalan bencana banjir ini begitu kompleks. Dengan bekal kesadaran itu, maka menempatkan faktor cuaca sebagai pemicu utama banjir atau longsor tentu bukanlah langkah bijak. Di luar cuaca, ada banyak faktor lain yang tak kalah utama seperti sejauh mana kesiapan daerah aliran sungai (DAS), kawasan resapan, waduk, situ, pompa air, tanggul, kesiagaan petugas, hingga kesadaran warga. Sudahkan faktor-faktor itu dikelola dengan baik dan matang? Tentu pertanyaan-pertanyaan itu patut dijawab dengan komprehensif oleh para pemangku kepentingan.
Sah-sah saja misalnya seorang kepala daerah berdalih telah melakukan persiapan atau simulasi untuk mengatasi banjir. Namun, faktanya, kesiapan yang mereka lakukan tak banyak berarti. Di tengah era keterbukaan, sudah saatnya para pemimpin termasuk kepala daerah untuk mengurangi membuat narasi-narasi dan janji. Sebaliknya, mereka harus memperbanyak aksi nyata. Tanpa narasi yang harus dipoles sana-sana pun, publik hakikatnya telah menyadari mana pemimpin yang serius bekerja dan berpihak ke rakyat dan mana yang hanya kamuflase untuk menebar simpati. Jika ada pemimpin yang masih sibuk membangun citra diri, namun minim aksi, sudah saatnya mereka mengeja ulang gaya kepemimpinan dan arah program kerjanya. Jangan habiskan atau ajak energi rakyat untuk turut larut dalam pergumulan narasi kurang berfaedah itu.
Tidak elok tentunya di tengah bencana, para pemimpin masih beralibi sana sini tanpa berani mengevaluasi diri sendiri. Jangan pula memanfaatkan bencana ini untuk kepentingan politis praktis seperti dengan menyerang sana-sini tanpa diimbangi kritik konstruktif.
Lihat Juga :