Perkuat Solidaritas dan Gotong Royong Hadapi Dampak Pandemi Corona
Minggu, 17 Mei 2020 - 09:08 WIB
Oleh karena itu, sambung dia, kepedulian kepada satu sama lain memang harus diberikan, tidak cukup hanya sekedar di khotbahkan.
“Tentu tugas dari tokoh-tokoh agama untuk menyadarkan masyarakat dari sudut agama. Demikian pula petugas kesehatan menyadarkan masyarakat dari sudut kesehatan. Begitu juga para ekonom misalnya menjelaskan hal-hal yang positif,” terang Dosen Tetap program studi Tafsir Hadits di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Moqsith juga meminta organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI termasuk ormas-ormas lain harus proaktif memberikan himbauan kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas ibadah dari rumah. Ini demi mencegah virus Corona ini tidak terus menyebar ke tempat-tempat lain.
“Harus dipahami yang dilarang itu bukan Jumatan atau salat Jumat dan juga salat Ied-nya. Tapi perkumpulannya itu yang dilarang dan saya kira itu berguna. Jadi beribadah dari rumah itu tidak mengurangi kekhusyuan kita, malah menjadikan rumah sebagai ruang ibadah privat kita kepada Allah,” ucap peraih Doktoral di bidang Tafsir Alquran dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.
Moqsith menyebutkan, Nabi Muhammad SAW di dalam Alquran mengatakan, jangan jadikan rumahmu itu seperti kuburan, yang tidak dipakai untuk salat, tidak dipakai untuk baca Alquran, tidak dipakai untuk mendidik anak-anak, tidak dijadikan sebagai keluarga sakinah mawadah warohmah.
“Covid-19 ini memberikan efek positif untuk menghidupkan keluarga kita. Kalau keluarga kita menjadi keluarga baik maka lingkungan kita juga dapat menjadi lingkungan yang baik. mulai di tingkat Kelurahan, Kecamatan,Kabupaten/Kota, Provinsi lalu seluruh rakyat Indonesia. Jadi dimulai dari yang paling kecil hingga besar ini,” ucap peraih pascasarjananya di bidang tasawuf Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu
Di bulan Ramadhan ini, kata dia, ada kewajiban untuk membayar zakat fitrah, di samping juga bagi orang yang memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat mal.
“Zakat fitrah, kita tahu itu diperuntukkan buat mereka yang tidak punya, yang dikeluarkan menurut Mazhab Syafii adalah berupa makanan pokok. Dimana makanan pokok kita di Indonesia adalah beras, yang di Timur Tengah pada zaman Nabi mengeluarkan gandum. Zakat fitrah itu kita salurkan kepada yang tidak mampu, Dengan cara begitu maka kemudian kepedulian itu bisa dibangun,” ujar peneliti di Wahid Institut Jakarta itu.
“Tentu tugas dari tokoh-tokoh agama untuk menyadarkan masyarakat dari sudut agama. Demikian pula petugas kesehatan menyadarkan masyarakat dari sudut kesehatan. Begitu juga para ekonom misalnya menjelaskan hal-hal yang positif,” terang Dosen Tetap program studi Tafsir Hadits di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Moqsith juga meminta organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI termasuk ormas-ormas lain harus proaktif memberikan himbauan kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas ibadah dari rumah. Ini demi mencegah virus Corona ini tidak terus menyebar ke tempat-tempat lain.
“Harus dipahami yang dilarang itu bukan Jumatan atau salat Jumat dan juga salat Ied-nya. Tapi perkumpulannya itu yang dilarang dan saya kira itu berguna. Jadi beribadah dari rumah itu tidak mengurangi kekhusyuan kita, malah menjadikan rumah sebagai ruang ibadah privat kita kepada Allah,” ucap peraih Doktoral di bidang Tafsir Alquran dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.
Moqsith menyebutkan, Nabi Muhammad SAW di dalam Alquran mengatakan, jangan jadikan rumahmu itu seperti kuburan, yang tidak dipakai untuk salat, tidak dipakai untuk baca Alquran, tidak dipakai untuk mendidik anak-anak, tidak dijadikan sebagai keluarga sakinah mawadah warohmah.
“Covid-19 ini memberikan efek positif untuk menghidupkan keluarga kita. Kalau keluarga kita menjadi keluarga baik maka lingkungan kita juga dapat menjadi lingkungan yang baik. mulai di tingkat Kelurahan, Kecamatan,Kabupaten/Kota, Provinsi lalu seluruh rakyat Indonesia. Jadi dimulai dari yang paling kecil hingga besar ini,” ucap peraih pascasarjananya di bidang tasawuf Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu
Di bulan Ramadhan ini, kata dia, ada kewajiban untuk membayar zakat fitrah, di samping juga bagi orang yang memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat mal.
“Zakat fitrah, kita tahu itu diperuntukkan buat mereka yang tidak punya, yang dikeluarkan menurut Mazhab Syafii adalah berupa makanan pokok. Dimana makanan pokok kita di Indonesia adalah beras, yang di Timur Tengah pada zaman Nabi mengeluarkan gandum. Zakat fitrah itu kita salurkan kepada yang tidak mampu, Dengan cara begitu maka kemudian kepedulian itu bisa dibangun,” ujar peneliti di Wahid Institut Jakarta itu.
Lihat Juga :