Agar Bisa Bertahan, Parpol Harus Mampu Raih Simpati Rakyat
Jum'at, 05 Februari 2021 - 08:15 WIB
(Baca juga: Mayoritas Parpol Tak Mau Revisi UU Pemilu, Jimly: Yang Penting Capres Jangan Dua)
Maka itu dia menyarankan para pendiri partai baru, untuk mencari cara lain memperoleh suara yang signifikan agar bisa memenangkan partainya. Kendati demikian, harus diakui masih ada partai yang terbilang masih baru namun dia bisa memenangkan Pileg karena dukungan dana yang cukup atau karena tokoh pendirinya.
Yakni, Partai Gerindra yang baru berdiri tahun 2008 dan Nasdem yang baru berdiri pada tahun 2011. Nasdem bisa mendapat perolehan suara hingga 9,05 persen dan Gerindra 12,57 persen pada Pemilu 2019.
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Prof Komaruddin Hidayat berharap, panggung politik, persaingan kompetisi antar Parpol ibarat sepak bola. "Tunjukkan permainan yang indah, cerdas, penuh etika, sehingga menarik untuk ditonton dan diikuti. Jangan menyebalkan," tuturnya.
Sementara itu, pemerhati politik internasional Prof Imron Cotan menegaskan kepada parpol baru, untuk mencoba memberikan alternatif baru.
"Apakah tawaran dari Partai Gelora misalnya, untuk mensinergikan agenda keummatan dan kebangsaan bisa menarik perhatian calon pemilih, itu kita lihat nanti. Kemudian, perbedaan spectrum politik, tidak harus meninggalkan prinsip kebangsaan kita: Satu Bangsa, Satu tanah Air dan Satu Bahasa yaitu Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Moya Institute Hery Sucipto menilai, kehadiran partai politik baru menjadi menarik, walaupun Pilpres 2024 masih tiga tahun lebih, namun partai-partai baru sudah mulai ancang-ancang. Hery mengungkapkan bahwa tidak ada petahana atau incumbent di Pilpres 2024 nanti.
Maka itu dia menyarankan para pendiri partai baru, untuk mencari cara lain memperoleh suara yang signifikan agar bisa memenangkan partainya. Kendati demikian, harus diakui masih ada partai yang terbilang masih baru namun dia bisa memenangkan Pileg karena dukungan dana yang cukup atau karena tokoh pendirinya.
Yakni, Partai Gerindra yang baru berdiri tahun 2008 dan Nasdem yang baru berdiri pada tahun 2011. Nasdem bisa mendapat perolehan suara hingga 9,05 persen dan Gerindra 12,57 persen pada Pemilu 2019.
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Prof Komaruddin Hidayat berharap, panggung politik, persaingan kompetisi antar Parpol ibarat sepak bola. "Tunjukkan permainan yang indah, cerdas, penuh etika, sehingga menarik untuk ditonton dan diikuti. Jangan menyebalkan," tuturnya.
Sementara itu, pemerhati politik internasional Prof Imron Cotan menegaskan kepada parpol baru, untuk mencoba memberikan alternatif baru.
"Apakah tawaran dari Partai Gelora misalnya, untuk mensinergikan agenda keummatan dan kebangsaan bisa menarik perhatian calon pemilih, itu kita lihat nanti. Kemudian, perbedaan spectrum politik, tidak harus meninggalkan prinsip kebangsaan kita: Satu Bangsa, Satu tanah Air dan Satu Bahasa yaitu Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Moya Institute Hery Sucipto menilai, kehadiran partai politik baru menjadi menarik, walaupun Pilpres 2024 masih tiga tahun lebih, namun partai-partai baru sudah mulai ancang-ancang. Hery mengungkapkan bahwa tidak ada petahana atau incumbent di Pilpres 2024 nanti.
Lihat Juga :