Bencana Alam, Pandemi, dan Urgensi Perbaikan Ekosistem
Minggu, 24 Januari 2021 - 07:13 WIB
Baca juga: WHO: Nasionalisme Vaksin Bikin Dunia di Ambang 'Bencana Kegagalan Moral'
Rentetan bencana dengan segala akibatnya, ditambah perkembangan pandemi Covid-19 , menjadi gambaran betapa berat dan rumitnya persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia di awal tahun 2021 ini. Betapa tidak; ketika krisis kesehatan dan resesi ekonomi belum tuntas ditangani, penderitaan sebagian masyarakat tereskalasi karena sejumlah bencana alam. Peristiwa banjir, tanah longsor hingga gempa bumi bisa dikatakan predictable karena selalu terjadi di bulan-bulan pertama setiap tahunnya. Namun, untuk awal 2021 sekarang ini, faktanya jelas sangat memprihatinkan karena banyaknya korban jiwa, korban luka dan kerusakan akibat rangkaian bencana itu terbilang luar biasa.
Sambil membantu para korban dan mereka yang terdampak langsung dari rangkain bencana itu, sejumlah daerah lainnya juga didorong mengantisipasi potensi bencana lainnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulangkali mengingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai cuaca ekstrim. Sebab, sepanjang Januari-Februari 2021, sebagian besar wilayah Indonesia, mencapai 94 persen dari 342 zona musim, sedang memasuki puncak musim hujan.
Selain itu, depresi tropis atau bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan berpotensi menimbulkan ancaman gelombang laut tinggi di sejumlah perairan, antara lain di Laut Jawa bagian timur, Selat Makassar bagian selatan dan sejumlah perairan di wilayah timur Indonesia. Masyarakat juga diimbau terus mewaspadai aktivitas sejumlah gunung berapi. Sedikitnya enam gunung berapi dalam status siaga atau waspada. Antara lain gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur), Gunung Api Merapi (Jawa Tengah), Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara), Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara), Gunung Api Semeru (Jawa Timur), dan Gunung Api Anak Krakatau (Lampung).
Baca juga: Ratusan Bentuk Kehidupan Baru Terbentuk dari Semburan Gunung berapi
Semua orang, baik yang sudah terdampak maupun belum terdampak bencana alam serta terpapar Covid-19, bisa merasakan langsung betapa alam semesta dan lingkungan hidup semakin kurang bersahabat. Tak hanya bencana, alam semesta juga menghadirkan ragam virus yang merusak kesehatan manusia. Sebaliknya, sejak puluhan tahun lalu, para ahli sudah mengingatkan bahwa manusia telah bertindak sembrono terhadap bumi. Agresivitas manusia mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) menyebabkan terjadinya kerusakan atau ketidakseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan itu menjadi sumber bencana dan pembiakan ragam virus.
Rusaknya lingkungan hidup atau ekosistem sudah dibahas selama beberapa dekade oleh para ahli. Sudah banyak pula inisiatif memperbaiki ekosistem. Ekosistem memiliki daya atau kemampuan untuk memperbaiki atau meregenerasi kerusakan. Sayangnya, bersamaan dengan munculnya inisiatif perbaikan itu, manusia tetap saja agresif mengeksploitasi SDA. Kerusakan ekosistem pun semakin parah, dan akibatnya sebagaimana dirasakan semua orang sekarang ini. Bencana alam silih berganti, dan virus-virus yang mengancam kesehatan manusia terus bermunculan.
Rentetan bencana dengan segala akibatnya, ditambah perkembangan pandemi Covid-19 , menjadi gambaran betapa berat dan rumitnya persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia di awal tahun 2021 ini. Betapa tidak; ketika krisis kesehatan dan resesi ekonomi belum tuntas ditangani, penderitaan sebagian masyarakat tereskalasi karena sejumlah bencana alam. Peristiwa banjir, tanah longsor hingga gempa bumi bisa dikatakan predictable karena selalu terjadi di bulan-bulan pertama setiap tahunnya. Namun, untuk awal 2021 sekarang ini, faktanya jelas sangat memprihatinkan karena banyaknya korban jiwa, korban luka dan kerusakan akibat rangkaian bencana itu terbilang luar biasa.
Sambil membantu para korban dan mereka yang terdampak langsung dari rangkain bencana itu, sejumlah daerah lainnya juga didorong mengantisipasi potensi bencana lainnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulangkali mengingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai cuaca ekstrim. Sebab, sepanjang Januari-Februari 2021, sebagian besar wilayah Indonesia, mencapai 94 persen dari 342 zona musim, sedang memasuki puncak musim hujan.
Selain itu, depresi tropis atau bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan berpotensi menimbulkan ancaman gelombang laut tinggi di sejumlah perairan, antara lain di Laut Jawa bagian timur, Selat Makassar bagian selatan dan sejumlah perairan di wilayah timur Indonesia. Masyarakat juga diimbau terus mewaspadai aktivitas sejumlah gunung berapi. Sedikitnya enam gunung berapi dalam status siaga atau waspada. Antara lain gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur), Gunung Api Merapi (Jawa Tengah), Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara), Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara), Gunung Api Semeru (Jawa Timur), dan Gunung Api Anak Krakatau (Lampung).
Baca juga: Ratusan Bentuk Kehidupan Baru Terbentuk dari Semburan Gunung berapi
Semua orang, baik yang sudah terdampak maupun belum terdampak bencana alam serta terpapar Covid-19, bisa merasakan langsung betapa alam semesta dan lingkungan hidup semakin kurang bersahabat. Tak hanya bencana, alam semesta juga menghadirkan ragam virus yang merusak kesehatan manusia. Sebaliknya, sejak puluhan tahun lalu, para ahli sudah mengingatkan bahwa manusia telah bertindak sembrono terhadap bumi. Agresivitas manusia mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) menyebabkan terjadinya kerusakan atau ketidakseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan itu menjadi sumber bencana dan pembiakan ragam virus.
Rusaknya lingkungan hidup atau ekosistem sudah dibahas selama beberapa dekade oleh para ahli. Sudah banyak pula inisiatif memperbaiki ekosistem. Ekosistem memiliki daya atau kemampuan untuk memperbaiki atau meregenerasi kerusakan. Sayangnya, bersamaan dengan munculnya inisiatif perbaikan itu, manusia tetap saja agresif mengeksploitasi SDA. Kerusakan ekosistem pun semakin parah, dan akibatnya sebagaimana dirasakan semua orang sekarang ini. Bencana alam silih berganti, dan virus-virus yang mengancam kesehatan manusia terus bermunculan.
Lihat Juga :