Gus Dur Mewariskan Diplomasi Kemanusiaan dan Solidaritas Global
Kamis, 24 Desember 2020 - 21:04 WIB
Dubes untuk UK, Irlandia dan IMO Dr. Desra Percaya menyampaikan dirinya sangat terinspirasi dari Gus Dur, serta belajar banyak darinya. Desra juga mengaku tumbuh di lingkungan nahdliyyin di Malang, Jawa Timur. "Gusdurian dan teman-teman NU itu adalah sahabat saya sehari-hari, karena saya besar di Malang, Sidorjo dan Surabaya. Jadi, saya merasa bahagia kembali bergabung dalam agenda ini," terangnya.
Lebih lanjut, Desra Percaya menganggap bahwa warisan diplomasi Gus Dur sangat penting dan tetap relevan untuk saat ini. "Solidaritas global sedang dites pada saat ini, being tested in the world. Pada masa pandemi saat ini, kerja sama, rasa kemanusiaan dan solidaritas global menjadi kunci atas tantangan bersama yang dihadapi,” katanya.
Menurut dia, sudah lebih dari satu dekade wafatnya Gus Dur, tapi legacy beliau terus menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia dan dunia saat ini. “Ada dua hal yang penting dalam kepimpinan Gus Dur. Pertama, diplomasi Indonesia di level dunia meningkat, yang berpegang teguh pada prinsip bebas aktif. Kedua, aktif menjembatani tradisi dan kemajuan, hingga saat Indonesia menjadi contoh bagi dunia bahwa Islam, modernitas dan demokrasi dapat tumbuh bersama. Gus Dur merupakan sosok role model yang menginspirasi," jelas Dr. Desra Percaya.
Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya C Staquf menjelaskan Gus Dur merupakan sosok yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Harga paling tinggi dari apapun, itu merupakan harga kemanusiaan. "Kebenaran tentang posisi politik, misalnya, itu merupakan satu hal yang mulia terkait degan kebenaran, tapi untuk menegakkan itu di dalam realitasnya dituntut harga yang mahal sekali. Nah, buat Gus Dur, harga yang paling mahal itu harga kemanusiaan," jelas Yahya C Staquf, yang saat ini tergabung dalam Indo Pacific Committe, bersama beberapa mantan perdana menteri dan negarawan lintas negara.
Lihat Juga :