Plastik Biodegradable Gagal Menjadi Solusi Masalah Lingkungan

Sabtu, 19 Desember 2020 - 06:40 WIB
Jinping meminta pihak industri dan masyarakat China untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai yang sulit terurai. Berdasarkan data Greenpeace, sedikitnya 36 perusahaan di China telah atau berencana membangun fasilitas manufaktur plastik biodegradable dengan kapasitas produksi mencapai 4,4 juta ton per tahun.

Dengan tren itu, China akan membuang sekitar 5 juta ton sampah plastik biodegradable per tahun pada 2025 atau saat larangan penggunaan plastik konvensional berlaku secara penuh. Plastik biodegradable dapat terurai secara lebih cepat hanya dalam enam bulan jika diolah di fasilitas khusus dengan suhu tinggi. (Baca juga: Kurangi Sampah Plastik di Laut, Luhut Gandeng Australia )

Jika dibuang di alam bebas, plastik biodegradable hanya dapat terurai paling cepat dalam tiga tahun tapi tetap mengeluarkan karbon. Dengan tidak adanya infrastruktur yang memadai untuk mengolah sampah plastik biodegradable , China juga akan menghadapi tantangan baru yang menimbulkan dampak negatif.

Sama seperti limbah plastik konvensional, limbah plastik biodegradable tidak memiliki sistem pengelolaan yang jelas dan efektif. Akibatnya, plastik biodegradable tetap menumpuk di tempat sampah tanpa diproses lebih lanjut. Hal ini mencemaskan karena produksi plastik biodegrdable sangat cepat dan besar.

"Seperti yang kita lihat sekarang, sampah plastik biodegradable ini pada akhirnya tetap berserakan di alam bebas, bahkan lebih buruk lagi di sungai dan lautan," kata Jia. "Beralih dari satu jenis plastik ke plastik yang lain tidak menyelesaikan krisis sampah yang sedang kita hadapi sekarang. Ini perlu diubah lagi," tambahnya.

Salah satu direktur Grantham Centre for Sustainable Future University of Sheffield, Dr Rachael Rothman, mengatakan plastik biodegradable sama saja dengan plastik sekali pakai. Bahkan, di Eropa, masyarakat mulai mengenal bioplastik. Meski mirip, keduanya tidak sama mengingat bioplastik belum tentu dapat terurai.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!