Siklon Tropis di Samudera Pasifik Barat dan LCS di Atas Normal, BMKG: Waspada

Selasa, 03 November 2020 - 02:47 WIB
BMKG meminta masyarakat waspada terjadinya hujan deras, disertai angin kencang yang dapat memicu longsor dan banjir menyusul terjadinya siklon tropis di Samudera Pasifik Barat dan LCS. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) menyebut siklon tropis Goni telah berkembang menjadi siklon tropis kuat kategori 5 harus diwaspadai karena bisa memicu gelombang tinggi perairan, hujan lebat, dan angin kencang di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan dampak langsung siklon tersebut berupa bencana banjir, longsor dan angin kencang di Filipina.

“Siklon tropis Goni terbentuk di Samudera Pasifik barat dan diprediksikan jalur lintasannya menuju Laut Cina Selatan (LCS) hingga beberapa hari ke depan setelah melewati Filipina Siklon tropis Goni merupakan Siklon tropis ke-3 yang berdampak signifikan bagi sejumlah negara-negara Asia Tenggara di sekitar Laut Cina Selatan setelah Siklon tropis Saudel dan Molave,” ujar Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) Herizal dalam keterangannya, Senin (2/11/2020) malam. (Baca juga: Apa Itu La Nina? Begini Penjelasan BMKG)



Herizal menyampaikan, Selama Oktober 2020, telah terjadi 7 siklon di Samudera Pasifik Barat dan Laut Cina Selatan. Sementara rata-rata klimatologis kejadian siklon tropis untuk Oktober adalah 3-4 kejadian. Di antaranya TC Chan-hom (2 Oktober), TS Linfa (9 Oktober), TS Nangka (11 Oktober), Depresi Tropis Ofel (13 Oktober), TC Saudel (16 Oktober), Depresi Tropis 20 W (19 Oktober), TC Molave (23 Oktober), TC Goni (27 Oktober), TS Atsani (28 Oktober). “TC adalah tropical cyclone (siklon tropis) sedangkan TS adalah tropical storm (badai tropis). Keduanya adalah jenis badai tropis namun berbeda tingkatan, dimana jenis siklon tropis (TC) memiliki luasan pusaran dan kecepatan angin yang lebih kuat daripada jenis tropical storm (TS),” tuturnya. (Baca juga: BMKG Imbau Daerah-Daerah Ini Lebih Waspada terhadap La Nina)

Herizal menyebut, sejumlah studi menyebutkan ada hubungan antara jumlah siklon tropis di Samudera Pasifik Barat dan Laut Cina Selatan dengan kejadian La Nina yang sedang berlangsung. “Namun perlu dipahami masyarakat bahwa La Nina bukanlah jenis badai tropis, bukan berupa pusat tekanan rendah dan pusaran angin yang menyebabkan curah hujan dan kecepatan angin ekstrem,” bebernya. (Baca juga: Waspada Banjir, La Nina Tingkatkan Curah Hujan yang Sudah Tinggi)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!