Kecam Saja Tak Cukup, Indonesia Perlu Jadi Komunikator Pemahaman Dunia soal Islam
Minggu, 01 November 2020 - 16:12 WIB
Hal yang tentu perlu disikapi serius, kata Idris, jika seorang presiden dari sebuah negara maju masih mempunyai pandangan yang keliru tentang Islam maka pasti ada sesuatu yang salah. "Minimal komunikasi internasional yang selama ini menjadi domain dan menjadi tempat berhimpun negara-negara Islam, OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang didirikan di Rabat, Maroko pada 25 September 1969 dan beranggotakan 57 negara serta memiliki perwakilan resmi di PBB, tidak menjalankan fungsinya dengan baik," tutur anggota Komisi VI DPR ini.
Lantas bagaimana dengan Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia? Idris Laena mengatakan bahwa seharusnya Indonesia tidak cukup hanya mengecam. “Indonesia seharusnya bisa berperan besar menjadi komunikator yang baik dengan negara-negara lain di dunia,” katanya.
Selain karena Islam yang dipahami adalah Islam yang rahmatan lil alamin, juga sejalan dengan sila pertama Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia yakni menjaga toleransi antaragama dan membangun toleransi antar umat beragama. "Sehingga stigma Islam sebagai agama radikal bisa hilang dengan sendirinya," tuturnya.
(Baca: Jokowi Bisa Dorong Macron Minta Maaf ke Umat Islam, Begini Caranya)
Dia menceritakan sejarah ketika Sultan Muhamad Al Patih (Mehmet II) berhasil merebut Konstantinopel pada 29 Mei 1453, penduduk yang beragama Kristen berlari ketakutan dan berkumpul di Haga Sovia. Mereka membayangkan akan dibinasakan oleh Sultan yang merupakan turunan ketujuh Kesultanan Ottoman yang berusaha merebut Konstantinopel.
Lantas bagaimana dengan Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia? Idris Laena mengatakan bahwa seharusnya Indonesia tidak cukup hanya mengecam. “Indonesia seharusnya bisa berperan besar menjadi komunikator yang baik dengan negara-negara lain di dunia,” katanya.
Selain karena Islam yang dipahami adalah Islam yang rahmatan lil alamin, juga sejalan dengan sila pertama Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia yakni menjaga toleransi antaragama dan membangun toleransi antar umat beragama. "Sehingga stigma Islam sebagai agama radikal bisa hilang dengan sendirinya," tuturnya.
(Baca: Jokowi Bisa Dorong Macron Minta Maaf ke Umat Islam, Begini Caranya)
Dia menceritakan sejarah ketika Sultan Muhamad Al Patih (Mehmet II) berhasil merebut Konstantinopel pada 29 Mei 1453, penduduk yang beragama Kristen berlari ketakutan dan berkumpul di Haga Sovia. Mereka membayangkan akan dibinasakan oleh Sultan yang merupakan turunan ketujuh Kesultanan Ottoman yang berusaha merebut Konstantinopel.
Lihat Juga :