Angka KDRT Turun karena Tak Terdeteksi Selama Pandemi
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 19:04 WIB
“Sudah sering lihat viral, orang tua marah kepada anak-anak karena perubahan pembelajaran menjadi school from home. Lalu, ada konflik antara suami istri karena tekanan ekonomi dan masalah kelesuan usaha. Para pekerja mengalami pengurangan jam kerja dan penurunan pendapatan. Bahkan, terimbas pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarnya dalam diskusi daring dengan tema “Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi”, Jumat (23/10/2020).
Semua kegiatan dibatasi dan rontoknya perekonomian nasional dan dunia cukup menekan masyarakat. Maka, masyarakat membutuhkan proses adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan situasi terbaru. Arijani menyebut adaptasi yang “dipaksakan” dan dalam waktu cepat ini tidaklah mudah. Masalah psikis dan ekonomi diduga menyebabkan meningkatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
(Baca: Selama Pandemi Corona Jumlah Kasus KDRT Menurun Tajam)
Perempuan yang tengah menempuh pendidikan doktor di Universitas Indonesia (UI) itu mengutip data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, grafik KDRT mengalami penurunan hingga Juni 2020. Bahkan, kasusnya tinggi pada Desember 2019 atau sebelum pandemi Covid-19 terjadi.
“Ini tidak bisa dipersepsikan pandemi menurunkan KDRT. Namun, disinyalir cukup banyak (KDRT). Namun, ada keterbatasan layanan, seperti konseling sehingga datanya tidak terdeteksi. Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga dan seksual yang dilatarbelakangi pandemi,” pungkasnya.
Semua kegiatan dibatasi dan rontoknya perekonomian nasional dan dunia cukup menekan masyarakat. Maka, masyarakat membutuhkan proses adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan situasi terbaru. Arijani menyebut adaptasi yang “dipaksakan” dan dalam waktu cepat ini tidaklah mudah. Masalah psikis dan ekonomi diduga menyebabkan meningkatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
(Baca: Selama Pandemi Corona Jumlah Kasus KDRT Menurun Tajam)
Perempuan yang tengah menempuh pendidikan doktor di Universitas Indonesia (UI) itu mengutip data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, grafik KDRT mengalami penurunan hingga Juni 2020. Bahkan, kasusnya tinggi pada Desember 2019 atau sebelum pandemi Covid-19 terjadi.
“Ini tidak bisa dipersepsikan pandemi menurunkan KDRT. Namun, disinyalir cukup banyak (KDRT). Namun, ada keterbatasan layanan, seperti konseling sehingga datanya tidak terdeteksi. Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga dan seksual yang dilatarbelakangi pandemi,” pungkasnya.
(muh)
Lihat Juga :