Jadi Relawan Vaksin, Ridwan Kamil Cerita Efek yang Dirasakan

Jum'at, 09 Oktober 2020 - 23:31 WIB
“(Misalnya), ya bahwa vaksin ini satu tidak halal. Vaksin ini justru akan menimbulkan lemahnya tubuh. Vaksin ini jualannya dari Tiongkok, dibisniskan. Pokoknya membuat orang antipati. Ditambahkan ‘tuh engga ada pemimpin yang jadi relawan, berarti kita rakyat dikorbankan. Kita dijadikan kelinci percobaan’. Nah gara-gara itulah akhirnya, saya Pak Kapolda, Pak Pangda, Forkopimda ya mendaftarkan diri jadi relawan,” ungkapnya.

Emil menyebut bahwa sebelum dirinya mendaftar, jumlah relawan vaksin masih rendah yakni 400 orang. Menurutnya hal ini efek adanya hoaks yang beredar di internet. “Di momentum saya belum daftar itu relawan hanya 400 mba. Karena takut tadi oleh hoaks dan provokasi. Seminggu setelah saya daftar, relawannya naik ke 2.000,” ujarnya.

(Baca: Positif Corona di Bogor Capai 2.136 Orang, Ridwan Kamil Minta Ponpes Proaktif)

Untuk menjadi relawan, kata Emil, akan ada lima kali kunjungan. Kunjungan pertama adalah untuk melakukan beberapa tes seperti PCR dan rapid. Kunjungan kedua adalah penyuntikan kandidat vaksin tahap pertama. Pada kunjungan ketiga juga akan kembali disuntikan kandidat vaksin kepada relawan.

“Nah yang keempat dan kelima adalah diambil darah untuk dicek reaksinya. Apakah setelah disuntik vaksin di dalam tubuh saya ini antibodinya berlimpah atau engga. Nah kalau berlimpahnya sampai 90%, berarti badan saya siap melawan virus Covid-19 kalaupun masuk ke tubuh saya kan,” ungkapnya.

Dia juga membagi pengalamannya dituding berbohong saat pengambilan darah. Pasalnya pengambilan darah saat ini menggunakan alat yang berbeda yang disebut dengan vacutainer.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!