Di Balik Perang Azerbaijan-Armenia dan Konflik Nagorno-Karabakh yang Absurd

Jum'at, 02 Oktober 2020 - 20:20 WIB
Pada tanggal 28 September 2020 untuk sementara pemerintah menghentikan sementara aktivitas media sosial seperti whatsapp, instagram facebook maupun zoom meeting. Sementara platform yang masih dapat diakses adalah google dan skype. Kesulitan komunikasi ini terjadi sejak sekitar pukul 8 pagi. Begini bunyi pembatasan penggunaan media sosial tersebut "Internet across the country has been restricted. You may notice that WhatsApp, Instagram and Facebook are not accessible. The Google and Skype platforms continue to operate as normal".

Sweeping dan Kepanikan Warga

Sejak mendadak diberlakukannya sweeping jam malam membuat warga menjadi panik. Pasalnya begitu tiba-tiba saat kondisi internet lumpuh. Pihak kepolisian Azerbaijan melakukan sweeping berdasarkan mandat presiden melalui kementerian pertahanan dan kementriam terkait. Sweeping dilakukan guna mencegah masyarakat pergi ke wilayah perbatasan Nagorno-Karabakh, mencegah demonstrasi seperti terjadi pada Juli lalu di mana demonstrasi berlangsung malam hari sesaat setelah Armenia berusaha mencaplok wilayah Tovuz. Sweeping tersebut juga dilakukan untuk mencegah penyusup Armenia masuk dan memprovokasi warga selain juga pencegahan terhadap aksi terorisme.

Kebangkitan Nasionalisme Warga

Saat ini animo masyarakat untuk menjadi pasukan perang cukup tinggi seperti yang diberitakan Mədəniyət TV, pemerintah Azerbaijan merekrut pemuda atau laki-laki cukup umur untuk dilatih dan diturunkan menjadi pasukan perang. Bahkan usia mereka ada yg 50 tahun lebih. Mereka yang belum cukup usia sesuai kriteria militer tetap diikut sertakan untuk menjadi supir, koki, kurir dan sebagainya memyesuaikan kebutuhan perang.

Sementara yang perempuan terutama dokter juga direkrut untuk menjadi tenaga medis. Mereka diangkut dengan menggunakan bus di hampir setiap titik seperti Sumqayit, Ganja, dan kota rayon-rayon lainnya hampir semua wilayah mengirimkan pemudanya. Mereka diabsen satu persatu sebelum menaiki bus. Tentunya mereka yg sehat secara jasmani yg diperbolehkan ikut.

Selain memberikan bantuan pangan dan kebutuhan primer lainnya di wilayah perbatasan Nagorno-Karabakh, pemerintah juga melakukan upaya-upaya perlindungan terhadap warga dengan menambah simpul-simpul keamanan di berbagai titik seperti dikerahkannya aparat kepolisian, mengajak warga untuk memasang bendera kebangsaan Azerbaijan di setiap rumah dan toko-toko serta membagikan bendera di jalan-jalan ataupun titik traffic light, menayangkan berita, pidato presiden, lagu-lagu militer yang dapat membakar semangat warga untuk menyerukan bahwa "Karabakh is Azerbaijan". Seperti di Real TV, Dunya TV, Lider TV, ATV, MTV Azerbaijan, Medeniyat TV. Tak hanya bendera Azerbaijan namun juga bendera Turki.

Peran Turki, Georgia, Rusia dan Iran

Perang ini memang unik karena melibatkan berbagai negara. Armenia yang penduduknya mayoritas kristen didukung oleh Iran yang mayoritas muslim Syiah. Armenia adalah negara pertama di dunia yang mengakui kristen sebagai agama resmi negaranya. Sedangkan Azerbaijan sebagai negara muslim dengan syiah sebagai mayoritas malah didukung oleh negara-negara non muslim seperti Israel dan Armenia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!