Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:55 WIB
Bagi sebagian pengguna muda, tampilan statistik juga dapat menjadi bagian dari identitas digital. Data kebugaran dibagikan ke media sosial dan digunakan untuk membentuk citra diri di hadapan orang lain. Ketika hal itu terjadi, algoritma tidak hanya mengukur tubuh. Algoritma ikut menentukan bagaimana seseorang menceritakan dirinya sendiri.

Penelitian menegaskan bahwa satu orang dapat hidup “di dalam data” untuk jumlah langkah, mengambil keputusan “dari data” untuk olahraga, dan menjadi “manusia algoritmik” ketika menilai kualitas tidurnya.

Pengguna Indonesia masih membangun batas

Meski kekuatan algoritma semakin besar, pengguna Indonesia tidak selalu menerimanya secara pasif.

Penelitian menemukan adanya bentuk perlawanan halus melalui penyesuaian sehari-hari. Pengguna memilih mengabaikan notifikasi ketika sedang bersama keluarga, beribadah, merawat orang lain, atau menjalankan kewajiban yang dianggap lebih penting.

Seorang partisipan menyebut waktu keluarga sebagai wilayah yang “tidak dapat dinegosiasikan”. Partisipan lainnya memilih langsung mematikan fitur ketika perangkat justru membuatnya merasa tertekan.

Tindakan tersebut bukan penolakan besar terhadap teknologi. Pengguna tetap memakai perangkat, tetapi menempatkannya dalam kerangka nilai, relasi, dan prioritas kehidupannya sendiri.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pengaruh algoritma tidak berlangsung secara seragam. Budaya, hubungan keluarga, pertimbangan etis, dan ritme spiritual dapat menjadi batas yang mencegah teknologi mengambil alih seluruh proses penilaian diri.

Gunakan skor sebagai petunjuk, bukan keputusan akhir

Smartwatch berbasis AI tetap memiliki manfaat. Perangkat ini dapat membantu pengguna mengenali pola aktivitas, membangun kebiasaan bergerak, serta melihat perubahan kondisi tubuh dari waktu ke waktu.

Namun, angka yang dihasilkan perangkat bukan gambaran sempurna mengenai manusia.

Skor tidur tidak sepenuhnya mewakili pengalaman beristirahat. Target langkah tidak selalu menunjukkan produktivitas. Indikator stres juga tidak dapat menggantikan pemahaman terhadap situasi emosional dan sosial seseorang.

Karena itu, data sebaiknya diperlakukan sebagai petunjuk untuk melakukan refleksi, bukan sebagai keputusan final mengenai kondisi tubuh atau nilai diri. Pengguna dapat mulai dengan memilih notifikasi yang benar-benar berguna, mematikan fitur yang menimbulkan kecemasan, serta menetapkan waktu ketika rekomendasi perangkat tidak perlu diikuti.

Yang tidak kalah penting, pengguna perlu tetap mendengarkan sensasi tubuh dan mempertimbangkan konteks kehidupan nyata. Smartwatch seharusnya membantu manusia memahami dirinya, bukan membuat manusia merasa baru sah untuk lelah, sehat, produktif, atau bahagia setelah memperoleh konfirmasi dari algoritma.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar seberapa canggih perangkat yang dikenakan di pergelangan tangan. Pertanyaannya adalah: siapa yang masih memegang kendali dalam menilai hidup kita—manusia atau angka pada layar?
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!