Makna Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

Senin, 06 Juli 2026 - 09:26 WIB
Selama hampir empat dekade, Khamenei adalah pusat gravitasi Republik Islam Iran. Di tangannya berpadu otoritas agama, militer, keamanan, dan politik luar negeri. Dia menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel, sekaligus wajah dari sebuah negara teokratis Islam yang bertahan di tengah tekanan embargo ekonomi, isolasi diplomatik, dan berbagai upaya perubahan rezim dari luar.

Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah penjaga martabat bangsa Persia. Ia juga seorang faqih (ahli hukum Islam) yang mempertahankan kedaulatan Iran ketika banyak negara memilih tunduk pada tekanan kekuatan besar.

Namun, sejarah tidak pernah ditulis hanya oleh para pendukung. Di balik keteguhan itu, pemerintahan Khamenei juga meninggalkan warisan kontroversial, khususnya bagi pembecinya. Pengetatan ruang kebebasan sipil, pembatasan hak-hak perempuan, penahanan terhadap aktivis, pengawasan media, hingga tekanan ekonomi akibat kombinasi salah urus domestik dan sanksi internasional menjadi bagian yang tak dapat dihapus dari catatan sejarahnya.

Gelombang protes yang berulang dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa Iran bukanlah masyarakat yang sepenuhnya seragam. Di balik slogan "persatuan" dan bernaung di bawah bendera revolusi Iran, selalu ada keragaman aspirasi yang mendesak dan mencari ruang untuk didengar.

Karena itu, membaca pemakaman Khamenei semata-mata sebagai bukti cinta rakyat kepada pemimpinnya adalah bentuk penyederhanaan. Sebaliknya, memandangnya hanya sebagai mobilisasi politik negara juga tidak cukup adil.

Dalam budaya Syiah, kematian memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Sublim. Tradisi berkabung bukan sekadar ritual, tetapi sebagai bagian dari merawat memori kolektif yang dibentuk sejak tragedi Karbala.

Air mata bukan saja sekadar ekspresi kehilangan, melainkan juga bahasa iman, solidaritas, dan identitas. Ketika jutaan orang turun ke jalan, mereka tidak selalu sedang memberikan suara politik; sebagian sedang menjalankan keyakinan religius, sebagian lagi menghormati seorang pemimpin yang mereka yakini telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!