Said Aqil Siradj: Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Penguatan Iman yang Hakiki
Minggu, 05 Juli 2026 - 21:55 WIB
Adapun tingkatan yang lebih dalam adalah fuad, yaitu hati yang paling jujur. Fuad tidak dapat berdusta terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau dosa, fuad akan menghadirkan kegelisahan, penyesalan, dan dorongan untuk kembali kepada jalan Allah. Sebaliknya, hati yang terus-menerus mengabaikan suara fuad akan semakin keras dan kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.
Menurut Said Aqil, pembinaan iman harus diarahkan pada penguatan dimensi batin tersebut agar syiar Islam tidak berhenti pada aspek seremonial dan simbolik semata.
"Syiar yang kita bangun jangan hanya bersifat simbolik. Yang dibutuhkan umat adalah syiar yang hakiki, yaitu syiar yang mampu membentuk akhlak, kejujuran, amanah, serta melahirkan masyarakat yang berintegritas," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari ramainya kegiatan keagamaan atau banyaknya simbol-simbol Islam yang tampak di ruang publik, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam perilaku umat.
Menutup tausiahnya, Said Aqil mengajak seluruh umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum hijrah batin, memperkuat iman, membersihkan hati, serta membangun integritas pribadi sehingga lahir masyarakat yang religius, jujur, adil, dan berakhlak mulia.
Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang dirangkaikan dengan Semarak Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII tersebut diharapkan menjadi momentum memperkokoh keimanan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membangun komitmen bersama dalam mewujudkan kemajuan umat dan bangsa.
Menurut Said Aqil, pembinaan iman harus diarahkan pada penguatan dimensi batin tersebut agar syiar Islam tidak berhenti pada aspek seremonial dan simbolik semata.
"Syiar yang kita bangun jangan hanya bersifat simbolik. Yang dibutuhkan umat adalah syiar yang hakiki, yaitu syiar yang mampu membentuk akhlak, kejujuran, amanah, serta melahirkan masyarakat yang berintegritas," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari ramainya kegiatan keagamaan atau banyaknya simbol-simbol Islam yang tampak di ruang publik, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam perilaku umat.
Menutup tausiahnya, Said Aqil mengajak seluruh umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum hijrah batin, memperkuat iman, membersihkan hati, serta membangun integritas pribadi sehingga lahir masyarakat yang religius, jujur, adil, dan berakhlak mulia.
Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang dirangkaikan dengan Semarak Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII tersebut diharapkan menjadi momentum memperkokoh keimanan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membangun komitmen bersama dalam mewujudkan kemajuan umat dan bangsa.
(shf)
Lihat Juga :