Said Aqil Siradj: Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Penguatan Iman yang Hakiki
Minggu, 05 Juli 2026 - 21:55 WIB
Ia menjelaskan bahwa akar persoalannya terletak pada kualitas keimanan. Iman tidak cukup hanya diucapkan melalui dua kalimat syahadat, tetapi harus bersemayam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Baca juga: Gandeng JK hingga Said Aqil, Din Syamsuddin Inisiasi Aliansi Global untuk Kemanusiaan
"Iman bukan sekadar di bibir dengan mengucapkan syahadat. Iman harus masuk ke dalam hati, menghidupkan kesadaran, membentuk akhlak, dan melahirkan amal saleh," tegasnya.
Lebih lanjut, Said Aqil menjelaskan bahwa qalb (hati) memiliki beberapa tingkatan yang menggambarkan kedalaman spiritual seseorang.
Tingkatan pertama adalah bashirah, yaitu penglihatan batin yang membuat seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang baik dan yang buruk. Bashirah menjadi cahaya hati yang membimbing manusia dalam mengambil keputusan yang benar.
Tingkatan berikutnya adalah dhamir atau hati nurani. Pada tingkat ini, hati tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga mendorong seseorang untuk melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Menurut beliau, dhamir merupakan pusat kesadaran moral yang mengarahkan manusia agar hidup sesuai dengan nilai-nilai agama, etika, dan kemanusiaan.
Beliau juga menjelaskan bahwa hati nurani memiliki beberapa dimensi, di antaranya dhamir dini (kesadaran keagamaan), dhamir qanuni (kesadaran hukum), serta dimensi moral yang menjadi pengawas batin dalam setiap tindakan manusia.
Baca juga: Gandeng JK hingga Said Aqil, Din Syamsuddin Inisiasi Aliansi Global untuk Kemanusiaan
"Iman bukan sekadar di bibir dengan mengucapkan syahadat. Iman harus masuk ke dalam hati, menghidupkan kesadaran, membentuk akhlak, dan melahirkan amal saleh," tegasnya.
Lebih lanjut, Said Aqil menjelaskan bahwa qalb (hati) memiliki beberapa tingkatan yang menggambarkan kedalaman spiritual seseorang.
Tingkatan pertama adalah bashirah, yaitu penglihatan batin yang membuat seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang baik dan yang buruk. Bashirah menjadi cahaya hati yang membimbing manusia dalam mengambil keputusan yang benar.
Tingkatan berikutnya adalah dhamir atau hati nurani. Pada tingkat ini, hati tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga mendorong seseorang untuk melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Menurut beliau, dhamir merupakan pusat kesadaran moral yang mengarahkan manusia agar hidup sesuai dengan nilai-nilai agama, etika, dan kemanusiaan.
Beliau juga menjelaskan bahwa hati nurani memiliki beberapa dimensi, di antaranya dhamir dini (kesadaran keagamaan), dhamir qanuni (kesadaran hukum), serta dimensi moral yang menjadi pengawas batin dalam setiap tindakan manusia.
Lihat Juga :