Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:33 WIB
Setiap kendaraan yang tertahan berarti bahan bakar terbuang. Setiap jam perjalanan yang hilang berarti produktivitas menurun. Setiap keterlambatan distribusi hasil pertanian berarti risiko penurunan kualitas barang. Setiap keterlambatan logistik berarti biaya bertambah. Karena itu, kemacetan bukan hanya persoalan lalu lintas, melainkan persoalan daya saing wilayah.

Salah satu titik yang menggambarkan keterbatasan jalan eksisting berada di kawasan Sibolangit, terutama sekitar tikungan Tirtanadi. Ruas ini sempit dan sulit diperlebar karena kiri-kanannya berupa tebing batu. Berdasarkan kajian teknis Pra-FS, lebar perkerasan di titik tersebut hanya sekitar 4,7 meter. Artinya, persoalan ini bukan sekadar kesan bahwa jalan terasa sempit, melainkan persoalan teknis yang nyata.

Dalam kondisi seperti itu, solusi tambal sulam tidak lagi cukup. Pelebaran mungkin dapat dilakukan di beberapa titik, tetapi tidak semua bagian memungkinkan diperlebar karena terkunci kondisi topografi.

Rekayasa lalu lintas dapat membantu sementara, tetapi tidak menyelesaikan persoalan kapasitas jangka panjang. Pemeliharaan rutin dan penanganan longsor tetap penting, tetapi semua itu tidak menghadirkan koridor alternatif yang benar-benar baru.

Selain sempit dan padat, jalur Medan-Berastagi juga rentan terhadap gangguan alam. Koridor ini melewati wilayah berbukit dan pegunungan dengan kontur terjal. Risiko longsor bukan sekadar catatan teknis, melainkan ancaman keselamatan. Pada November 2024, longsor besar terjadi di jalur utama Medan menuju Berastagi. Peristiwa itu menimbulkan korban jiwa, melukai sejumlah orang, dan membuat kendaraan terdampak material longsor.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa persoalan Medan-Berastagi bukan hanya kemacetan musiman. Ini adalah persoalan keselamatan, ketahanan jaringan, dan perlindungan terhadap nyawa manusia. Sumatera Utara tidak boleh terus bergantung pada satu jalur utama yang sempit, padat, berkelok, dan rentan bencana.

Data lalu lintas juga memperkuat urgensi tersebut. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, sejak 2023 Lalu Lintas Harian Rata-Rata Tahunan atau LHRT pada koridor Medan-Berastagi tercatat sekitar 20.888 SMP. SMP adalah satuan mobil penumpang, yaitu ukuran pembanding untuk menyetarakan berbagai jenis kendaraan.

Sementara itu, Volume Capacity Ratio atau VCR, yakni perbandingan volume kendaraan dengan kapasitas jalan, berada pada kisaran 0,90–0,99. Dengan VCR hampir menyentuh angka 1, kapasitas jalan praktis sudah sangat terbatas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!