Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
Minggu, 21 Juni 2026 - 16:46 WIB
Kementerian Pertanian menargetkan perluasan tanam dan panen serta optimalisasi lahan tebu hingga 100 ribu ha di 2026, yang 70 ribu ha diharapkan dari Jawa Timur. Target swasembada gula konsumsi juga dibarengi bongkar raton dengan target 100 ribu ha. Kembali Jawa Timur menjadi andalan: target bongkar raton 70 ribu ha. Jawa Timur jadi andalan karena di provinsi ini paling banyak pabrik gula dan lahan tebu terluas.
Menumpukan target swasembada pada Jawa Timur tak salah, tetapi ada risiko. Karena memperluas lahan tebu akan menurunkan luas lahan komoditas lain. Ini dapat membuat predikat Jawa Timur sebagai provinsi produsen nomor satu untuk beras, jagung, bawang merah, cabai rawit, telur ayam, daging sapi, susu, dan garam tergeser. Tantangan lain adalah soal insentif ekonomi buat petani: benarkah menanam tebu lebih menarik? Tahun lalu petani tebu kecewa karena gula mereka ditawar rendah saat dilelang.
Hitung-hitungan di atas baru untuk gula konsumsi. Belum menimbang gula industri, yang kebutuhannya kira-kira sama dengan gula konsumsi. Sampai saat ini gula rafinasi untuk industri makanan, minuman, dan farmasi seluruh bahan bakunya berasal dari impor. Berupa gula mentah (raw sugar). Kalau gula konsumsi saja masih belum cukup menutup kebutuhan, target swasembada gula industri pada tahun 2030, seperti di Perpres 40/2023, sepertinya sulit dicapai, kalau tidak hendak dikatakan mustahil.
Selama ini pemerintah mengejar target swasembada gula berbasis tebu. At all cost. Padahal, ada sejumlah sumber gula non-tebu yang tidak kalah potensial. Ada stevia, nira dari aren, nira kelapa atau kelapa sawit. Boleh dibilang, potensi ini belum digarap. Dari semua itu, yang potensial adalah nira kelapa sawit. Luas kebun kelapa sawit saat ini sekitar 16,8 juta ha. Mengikuti norma pengelolaan perkebunan sawit yang baik dan benar, perlu 4% replanting kebun sawit tiap tahun atau 672 ribu ha.
Pengalaman petani sawit di berbagai daerah menunjukkan, pohon kelapa sawit yang sudah ditebang dapat menghasilkan nira selama 30-40 hari dengan produksi 5-7 liter per hari per pohon. Dengan tingkat rendemen 20-30%, apabila nira diolah menjadi gula merah, dapat dihasilkan gula merah sawit 1,2–1,75 kg/pohon/hari selama fase produksi nira. Jika rerata populasi pohon sawit 133 per ha, berarti dapat diperoleh sekitar 6,86 ton gula merah dari sawit per ha selama periode replanting. Dengan replanting 672 ribu ha/tahun berarti ada potensi gula merah dari sawit 4,6 juta ton/tahun.
Menumpukan target swasembada pada Jawa Timur tak salah, tetapi ada risiko. Karena memperluas lahan tebu akan menurunkan luas lahan komoditas lain. Ini dapat membuat predikat Jawa Timur sebagai provinsi produsen nomor satu untuk beras, jagung, bawang merah, cabai rawit, telur ayam, daging sapi, susu, dan garam tergeser. Tantangan lain adalah soal insentif ekonomi buat petani: benarkah menanam tebu lebih menarik? Tahun lalu petani tebu kecewa karena gula mereka ditawar rendah saat dilelang.
Hitung-hitungan di atas baru untuk gula konsumsi. Belum menimbang gula industri, yang kebutuhannya kira-kira sama dengan gula konsumsi. Sampai saat ini gula rafinasi untuk industri makanan, minuman, dan farmasi seluruh bahan bakunya berasal dari impor. Berupa gula mentah (raw sugar). Kalau gula konsumsi saja masih belum cukup menutup kebutuhan, target swasembada gula industri pada tahun 2030, seperti di Perpres 40/2023, sepertinya sulit dicapai, kalau tidak hendak dikatakan mustahil.
Selama ini pemerintah mengejar target swasembada gula berbasis tebu. At all cost. Padahal, ada sejumlah sumber gula non-tebu yang tidak kalah potensial. Ada stevia, nira dari aren, nira kelapa atau kelapa sawit. Boleh dibilang, potensi ini belum digarap. Dari semua itu, yang potensial adalah nira kelapa sawit. Luas kebun kelapa sawit saat ini sekitar 16,8 juta ha. Mengikuti norma pengelolaan perkebunan sawit yang baik dan benar, perlu 4% replanting kebun sawit tiap tahun atau 672 ribu ha.
Pengalaman petani sawit di berbagai daerah menunjukkan, pohon kelapa sawit yang sudah ditebang dapat menghasilkan nira selama 30-40 hari dengan produksi 5-7 liter per hari per pohon. Dengan tingkat rendemen 20-30%, apabila nira diolah menjadi gula merah, dapat dihasilkan gula merah sawit 1,2–1,75 kg/pohon/hari selama fase produksi nira. Jika rerata populasi pohon sawit 133 per ha, berarti dapat diperoleh sekitar 6,86 ton gula merah dari sawit per ha selama periode replanting. Dengan replanting 672 ribu ha/tahun berarti ada potensi gula merah dari sawit 4,6 juta ton/tahun.
Lihat Juga :