Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:46 WIB
Selain gula merah padat atau bubuk, gula bisa dalam bentuk cair. Di level riset, produksi gula merah sawit baik padat maupun cair sudah dilakukan. Kesimpulannya, usaha ini layak dilakukan. Nilai gizi jumlah sajian per 100 gr dari gula cair sawit juga sudah dipetakan: energi total 232,86 kkal, lemak total 0,02 g, protein 8,65 g, karbohidrat total 49,52 g, gula 49,52 g, dan garam (Natrium) 0 mg. Indeks glikemik gula cair 49,6, lebih rendah dari gula pasir berbasis tebu. Ini berarti gula cair bisa jadi alternatif pengganti gula buat penderita diabetes dan yang obesitas.

Ada sejumlah keunggulan gula merah (padat atau cair) dari nira wasit. Pertama, gula merah sawit merupakan gula fruktosa, bukan gula sukrosa seperti gula dari tebu. Dari aspek kesehatan, salah satunya indeks glikemik, gula merah sawit lebih sehat ketimbang gula berbasis tebu. Di dunia, gula fruktosa bukan hal baru. Amerika Serikat sejak 1970-an mengembangkan sirup fruktosa dari jagung (high fructose corn syrup). Di Indonesia, konsumsi gula merah (padat atau cair) juga bukan hal baru.

Dari sisi ketersediaan, gula merah sawit bisa tersedia sepanjang tahun selama proses peremajaan sawit tidak ada kendala. Sebaliknya, produksi gula berbasis tebu musiman. Sampai saat ini target peremajaan sawit rakyat (PSR) masih terbentur status lahan. Tanpa upaya serius mengurai kendala PSR, program ini akan membentur tembok. Secara ekonomi gula merah sawit lebih terjangkau. Secara spasial, karena sawit tersebar di 250 kabupaten di 26 provinsi, gula merah sawit secara alami akan terdistribusi luas.

Dengan kondisi seperti ini, produksi dan konsumsi gula merah sawit akan berbasiskan lokalitas. Implikasinya, produksi gula merah sawit memiliki jejak karbon (carbon footprint) rendah. Ini amat bermakna menekan emisi gas rumah kaca. Selain itu, produksi gula merah sawit dengan memanfaatkan pohon sawit tak produktif dapat menekan hama kumbang tanduk (oryctes), musuh utama tanaman sawit, selain mempercepat pengolahan batang kelapa sawit dan mengurangi biaya replanting.

Sudah barang tentu, merealisasikan potensi menjadi kenyataan tidak bisa seperti tukang sulap: sim salabim dan jadi. Perlu kebijakan yang memungkinkan potensi menjadi sesuatu yang berwujud. Dimulai dengan analisis mendalam: memetakan potensi, peluang, kendala, dan hambatan. Kementerian Peridustrian pernah meluncurkan proyek gula sawit sebagai bagian hilirisasi. Ini bisa dimaknai sebagai keberanian memulai dan menggali sesuatu yang baru. Karena potensi ada di depan mata. Tanpa perlu menambah lahan dan menanam. Bukan mustahil swasembada gula lebih cepat dicapai.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!