Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:26 WIB
Selain lengkap, Islam juga merupakan satu kesatuan ajaran yang saling terkait. Akidah berdampak pada ibadah dan muamalah. Ibadah tidak terpisah dari kehidupan sosial. Islam mengatur perilaku di masjid, sekaligus mengatur perilaku di pasar.

3. Islam adalah Agama yang Sangat Rasional

Meskipun rasionalitas manusia terbatas untuk memahami seluruh detail ajarannya, Islam bersifat sangat rasional. Mulai dari ajaran teologi tentang Ketuhanan yang jelas dan tegas, ibadah yang terpandu dengan dasar wahyu—bukan inovasi manusia—hingga muamalah yang memiliki petunjuk jelas.

Wajar jika kata kedua terbanyak dalam Al-Qur’an setelah “Allah” dan sifat-sifat-Nya adalah kata-kata yang berkaitan dengan “akal dan pemikiran”. Karena itu, ilmu dan pemahaman (al-fiqh) menjadi jalan kemuliaan (Allah mengangkat derajat orang berilmu) dan jalan kebaikan (siapa yang dikehendaki Allah kebaikan akan diberi pemahaman agama).

Karen Armstrong, seorang ahli agama-agama, pernah berkata: “Agama yang paling rasional adalah Islam.” Beliau lalu menambahkan: “Meskipun masih banyak umat Islam yang kurang rasional.”

4. Islam adalah Agama yang Praktis dan Mudah

Islam bukan sekadar perasaan batin atau emosi. Islam adalah keyakinan yang tertanam dalam hati dan berdampak pada cara pandang serta perilaku manusia. Karena itu, Islam bersifat praktis dalam petunjuknya, bahkan pada setiap rincian kehidupan. Seorang Muslim akan dipandu Islam selama 24 jam, sejak bangun tidur hingga kembali tidur.

Karakter praktis Islam juga diwujudkan dalam kemudahan dan fleksibilitas. Islam bukan agama yang sulit dan kaku. Semua amalan Islam mudah dan memiliki “muru’ah” atau penyesuaian-penyesuaian tanpa melanggar prinsip dasar. Bahkan ketika menghadapi kesulitan, Islam mencari jalan keluar yang paling mudah tanpa melanggar prinsip-prinsipnya.

5. Islam Menjaga Keseimbangan dan Moderasi

Islam menekankan setiap aspek kehidupan tanpa mengorbankan aspek lain. Islam hadir untuk memenuhi seluruh aspek kehidupan secara lengkap dan seimbang. Penekanan pada kehidupan akhirat, misalnya, tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kehidupan dunia.

Kata “seimbang” ini berimplikasi pada karakter Islam yang moderat. Hilangnya keseimbangan membuka pintu ekstremisme di satu sisi dan kelalaian di sisi lain. Komitmen pada Islam tidak mengurangi nilai kebaikan sosial kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan. Maka Islam hadir dengan ajaran toleransi tinggi.

6. Islam adalah Agama yang Sarat Nilai Spiritual

Islam sering dipersepsikan sebagai agama yang sarat hukum dan minim spiritualitas. Akibatnya, Islam dituduh sebagai agama yang “less compassionate” atau kurang kasih sayang. Islam dituduh agama yang sarat kekerasan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!