Membaca Dunia dengan Pancasila

Jum'at, 29 Mei 2026 - 14:04 WIB
Di sinilah muncul kekhawatiran tentang generasi muda. Nilai-nilai Pancasila berisiko luntur bukan semata-mata karena pemuda tidak nasionalis, tetapi karena Pancasila sering hadir dalam bentuk yang kering, formal, dan berjarak dari realitas hidup mereka.

Pancasila dan Pemuda



Bagi banyak anak muda, Pancasila masih terlalu sering tampil sebagai materi ujian, slogan upacara, atau kewajiban administratif. Padahal mereka hidup dalam dunia digital yang memperlihatkan perang, ketidakadilan, krisis iklim, kekerasan identitas, dan penderitaan manusia secara real time.

Generasi muda tidak kekurangan informasi. Yang sering kurang adalah kerangka nilai untuk membaca informasi secara jernih dan menentukan sikap secara bertanggung jawab. Karena itu, pendidikan Pancasila tidak boleh berhenti pada indoktrinasi dan hafalan. Pancasila harus diajarkan sebagai cara berpikir kritis untuk memahami persoalan bangsa dan dunia, termasuk perang, perdamaian, hukum laut, perubahan iklim, migrasi, teknologi digital, dan ketimpangan global.

Agar Pancasila tetap hidup, yang dibutuhkan bukan hanya kurikulum, tetapi juga keteladanan. Pemerintah harus memberi contoh melalui kebijakan yang adil, tokoh agama melalui pesan kemanusiaan dan persaudaraan, tokoh pendidikan melalui pembelajaran yang mencerahkan, dan para influencer melalui ruang digital yang tidak merendahkan akal sehat maupun martabat manusia.

Keteladanan itu penting karena generasi muda lebih mudah percaya pada nilai yang mereka lihat bekerja dalam kehidupan nyata. Jika Pancasila hanya diminta untuk dihafalkan tetapi tidak dicontohkan, ia akan kehilangan daya panggil moralnya.

Sebaliknya, jika Pancasila tampak dalam keberanian membela yang lemah, kesediaan berdialog, kejujuran dalam hukum, kepedulian terhadap lingkungan, dan penghormatan terhadap perbedaan, generasi muda akan melihatnya sebagai sesuatu yang hidup. Pancasila akan terasa bukan sebagai beban masa lalu, melainkan sebagai kompas bagi masa depan.

Hari Lahir Pancasila perlu dibaca sebagai ajakan untuk kembali pada sumber lahirnya Pancasila: realitas geopolitik Indonesia yang majemuk, strategis, dan tidak pernah terpisah dari dinamika dunia. Dari titik tolak itu, Pancasila dapat menjadi cara Indonesia memahami dirinya sekaligus menawarkan pandangan etik bagi hukum internasional dan tata dunia.

Pancasila tidak cukup diselamatkan dengan seremoni. Ia harus dihidupkan dalam kebijakan, diplomasi, pendidikan, hukum, teladan publik, dan percakapan digital di kalangan generasi muda. Jika generasi muda dapat melihat Pancasila sebagai cara membaca ketidakadilan global dan membangun masa depan Indonesia yang bermartabat, maka Pancasila tidak hanya akan bertahan sebagai dasar negara. Ia akan tumbuh sebagai bahasa Indonesia untuk dunia yang lebih manusiawi, lebih damai, dan lebih adil.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!