Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:45 WIB
Seminar tersebut menghadirkan berbagai pakar dan akademisi yang mumpuni di bidangnya, termasuk Prof Teddy Mantoro, Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Nusa Putra; peneliti Australian Strategic Policy Institute di Canberra, Australia Gatra Priyandita; serta pemerhati keamanan regional Brigjen TNI (Purn) Victor P Tobing.

Gatra dalam pemaparannya mencerahkan para peserta seminar mengenai fenomena aktor siber, di mana China menjadi salah satu di antaranya. China memiliki salah satu program siber ofensif paling canggih di dunia dengan skala dan persistensi yang tinggi, serta adanya fusi sipil-militer yang menghapus batas antara negara dan swasta, serta penyelarasan strategis dengan prioritas nasional.

Dengan kemampuan teknologi sibernya, China menawarkan infrastruktur digital, konektivitas, dan pembangunan kapasitas kepada negara-negara berkembang, utamanya melalui program yang dikenal sebagai “Jalur Sutra Digital.”

Menurut Gatra, siber ofensif China bertujuan mengumpulkan informasi intelijen strategis, melakukan akuisisi ekonomi dan teknologi, serta untuk mendapatkan akses dan praposisi. “Pengumpulan informasi itu bersifat permanen dan berkelanjutan di masa damai dengan target meliputi pemerintah, militer, jaringan diplomatik, dan peneliti kebijakan,” ujar Gatra.

Strategi akuisisi ekonomi dan teknologi yang diterapkan oleh China terlihat dari strategi fusi sipil militer yang dicanangkan sejak 2017. “Perusahaan teknologi sipil diwajibkan berbagi hasil penelitian dan pengembangan dengan Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) China, menciptakan jalur langsung dari IP yang dicuri ke aplikasi militer,” kata peneliti yang meraih gelar Doktor dari Australian National University (ANU), Canberra itu.

Dia juga menjelaskan mengenai Jalur Sutra Digital yang bertujuan memperkuat posisi China sebagai kekuatan teknologi global melalui ekspor infrastruktur digital, standar teknologi, dan model tata kelola digital China. “Asia Tenggara menjadi target utama, dengan perusahaan China berinvestasi dalam 5G, cloud, pusat data, kabel bawah laut, dan smart city,” ucapnya.

Dia mengakui proyek Jalur Sutra Digital yang digagas Presiden China Xi Jinping berpotensi mempercepat transformasi digital kawasan. Namun, dia juga mengingatkan proyek tersebut harus direspons dengan kewaspadaan.

Prof Teddy Mantoro menekankan bahwa Indonesia berada di simpul strategis ekspansi digital China.

Hal ini karena Indonesia memiliki populasi digital yang besar dan pasar perdagangan elektronik (e-commerce) atau teknologi finansial (fintech) terbesar di antara negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa di Asia Tenggara (ASEAN).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!