Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan
Rabu, 27 Mei 2026 - 19:45 WIB
Indonesia juga memiliki kebutuhan konektivitas antarpulau, termasuk dalam hal jaringan 5G, fiber, cloud, pusat data, dan pembangunan smart city. Indonesia juga dinilai dapat menjadi pembentuk aturan (rule shaper) dalam dunia digital ASEAN melalui DEFA (Digital Economy Framework Agreement atau Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital), dan ASEAN-China Digital Cooperation (Kerja Sama Digital ASEAN dan Cina).
Menurut dia, nilai strategis di atas membuat China menawarkan peluang ekonomi bagi Indonesia. “Namun, peluang ekonomi hanya menjadi aset strategis bila Indonesia mengubah investasi asing menjadi kapasitas domestik, dan bukan menjadi ketergantungan infrastruktur,” kata Guru Besar yang menjadi Direktur Sekolah Ilmu Komputer (School of Computer Science) Universitas Nusa Putra itu.
Dalam pandangan Teddy, pembangunan infrastruktur digital perlu dipahami pula dalam konteks perebutan pengaruh antara negara-negara besar seperti antara China dan Amerika Serikat.
Menurut dia, persaingan pengaruh itu tidak berhenti di perdagangan, tetapi masuk ke cloud, data, kecerdasan buatan (AI), standar, dan arsitektur keamanan.
Kemudian, potensi kawasan ASEAN terdorong terfragmentasi oleh standar ekonomi berbeda dan potensi isu Laut China Selatan dan kompetisi kekuatan besar memasuki domain digital. Menghadapi risiko potensi di atas, Teddy menekankan pentingnya diplomasi yang bertujuan menerima manfaat teknologi sambil mempertahankan otonomi, ketahanan, dan leverage Indonesia.
Brigjen Victor Tobing menuturkan penguasaan teknologi sangat bermanfaat bagi satu negara. “Negara yang menguasai sumber daya dalam bidang teknologi pasti akan dapat menguasai keadaan dan menjaga kepentingan nasionalnya,” ucapnya.
Dia mengajukan beberapa pertanyaan yang patut direnungkan yaitu apakah Indonesia bersedia untuk melakukan adaptasi teknologi atau tidak. “Kalau kita sudah mau adaptasi, kita mau agile atau tidak?” katanya.
Victor menyatakan strategi perang China tampaknya lebih didasarkan pada strategi perang Sun Tzu. Inti dari strategi itu adalah memenangkan perang tanpa bertarung. Dalam pandangannya, Indonesia harus menghitung dengan bijaksana bila ingin bertarung dan mengejar ketertinggalan, khususnya dengan pihak yang memiliki kesenjangan kekuatan yang tinggi seperti China.
Terkait diplomasi digital, Victor mengajak publik memperhatikan Asean Digital Masterplan (ADM) yang telah berlanjut dari ADM 2025 menuju ADM 2030. Bila ADM 2025 berfokus pada pemulihan pascapandemi Covid-19, maka ADM 2030 berfokus pada prediksi rivalitas dan kegunaan ganda (kepentingan sipil sekaligus militer) dari seluruh aktivitas di seluruh negara-negara ASEAN.
Menurut dia, nilai strategis di atas membuat China menawarkan peluang ekonomi bagi Indonesia. “Namun, peluang ekonomi hanya menjadi aset strategis bila Indonesia mengubah investasi asing menjadi kapasitas domestik, dan bukan menjadi ketergantungan infrastruktur,” kata Guru Besar yang menjadi Direktur Sekolah Ilmu Komputer (School of Computer Science) Universitas Nusa Putra itu.
Dalam pandangan Teddy, pembangunan infrastruktur digital perlu dipahami pula dalam konteks perebutan pengaruh antara negara-negara besar seperti antara China dan Amerika Serikat.
Menurut dia, persaingan pengaruh itu tidak berhenti di perdagangan, tetapi masuk ke cloud, data, kecerdasan buatan (AI), standar, dan arsitektur keamanan.
Kemudian, potensi kawasan ASEAN terdorong terfragmentasi oleh standar ekonomi berbeda dan potensi isu Laut China Selatan dan kompetisi kekuatan besar memasuki domain digital. Menghadapi risiko potensi di atas, Teddy menekankan pentingnya diplomasi yang bertujuan menerima manfaat teknologi sambil mempertahankan otonomi, ketahanan, dan leverage Indonesia.
Brigjen Victor Tobing menuturkan penguasaan teknologi sangat bermanfaat bagi satu negara. “Negara yang menguasai sumber daya dalam bidang teknologi pasti akan dapat menguasai keadaan dan menjaga kepentingan nasionalnya,” ucapnya.
Dia mengajukan beberapa pertanyaan yang patut direnungkan yaitu apakah Indonesia bersedia untuk melakukan adaptasi teknologi atau tidak. “Kalau kita sudah mau adaptasi, kita mau agile atau tidak?” katanya.
Victor menyatakan strategi perang China tampaknya lebih didasarkan pada strategi perang Sun Tzu. Inti dari strategi itu adalah memenangkan perang tanpa bertarung. Dalam pandangannya, Indonesia harus menghitung dengan bijaksana bila ingin bertarung dan mengejar ketertinggalan, khususnya dengan pihak yang memiliki kesenjangan kekuatan yang tinggi seperti China.
Terkait diplomasi digital, Victor mengajak publik memperhatikan Asean Digital Masterplan (ADM) yang telah berlanjut dari ADM 2025 menuju ADM 2030. Bila ADM 2025 berfokus pada pemulihan pascapandemi Covid-19, maka ADM 2030 berfokus pada prediksi rivalitas dan kegunaan ganda (kepentingan sipil sekaligus militer) dari seluruh aktivitas di seluruh negara-negara ASEAN.
(jon)
Lihat Juga :